Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #24

Permintaan Firsta

Sesampainya di rumah, bukannya menyuruhku segera ganti baju, Ibu malah memintaku duduk di karpet. Kukira Ibu akan marah dan berteriak-teriak seperti dulu, tetapi ternyata Ibu hanya menasehatiku dengan kata-kata. 

Ibu bilang aku tidak boleh bicara sembarangan lagi di hadapan teman ataupun orang dewasa. Ibu menyebutkan beberapa kata yang terlarang untuk kusebut. Di antaranya adalah “anak haram” dan “kumpul kebo”. Ibu juga memintaku agar tidak asal menyebut Om Wawan sebagai pacarnya. Selain itu Ibu juga menegaskan bahwa aku tidak boleh berkata kasar pada guru-guru di sekolah. 

Saat aku bertanya tentang alasan mengapa aku tidak boleh menyinggung kata-kata terlarang itu, Ibu mulai berteriak dan mengataiku “cerewet” dan “sok tahu”. Kalau aku masih memakai kata-kata itu lagi, aku akan dicap “anak liar” dan “tidak sopan”, dan bisa-bisa aku tidak akan naik kelas. Aku takut saat mendengar bagian itu. Mata Ibu melotot dan wajahnya semakin memerah, jadi aku menciut di hadapan Ibu dan hanya manggut-manggut setuju. 

Kemudian, Ibu membuang tasnya, lalu berjalan pincang ke arah dapur. Suaranya saat menyuruhku pergi ke kamar terdengar lemas. Seperti orang lelah. Ibu memang selalu lelah kalau habis memarahiku. 

“Bu…” kataku saat melihat bagian bawah kaki Ibu yang digulung perban. “Ada merah-merah keluar dari perban….”

Ibu berhenti sejenak, kemudian berputar menghadapku. 

“Udah, kamu nggak usah ngurus luka Ibu. Sana pergi ke kamar, terus belajar.”

Aku membuang napas, menuruti perintahnya.

Pada sore harinya, Mbak Firsta pulang sekolah. Tidak berkata apa-apa begitu masuk kamar, malah langsung duduk di atas kursi. Pundaknya turun, dan suara napasnya berat. 

“Kenapa, Mbak?” 

Mbak Firsta menatapku, “Nggak papa. Ibu belum pulang, ya?”

Aku mengangguk. Setelah menyiapkan sepiring nasi dan tempe untukku, Ibu pamit keluar lagi. Sempat kulihat tadi perban di kaki Ibu masih mengeluarkan darah, bahkan tampaknya lebih banyak daripada sebelumnya. Namun Ibu sudah keburu keluar sebelum aku bicara sesuatu. Aku mengadu tentang apa yang kulihat pada Mbak Firsta, tetapi di tengah ceritaku, tiba-tiba terdengar pintu rumah yang diketuk keras.

Om Wawan ternyata datang sambil memapah Ibu, yang terlihat kesakitan. 

“Ibu kalian tadi ambruk di toko. Badannya panas! Om terpaksa bawa pulang!” Kata Om Wawan, kemudian menyela masuk. Sekujur tubuh Ibu berkeringat, wajahnya pucat, dan badannya begitu gemetar sehingga Om Wawan akhirnya menggendong Ibu ke dalam kamar. Mbak Firsta langsung berlari ke dapur, entah mengambil apa. Aku berdiri di dekat kasur dan hampir tidak bisa memutuskan mau melakukan apa. 

Saat Om Wawan membetulkan posisi Ibu di kasur, mataku terpancang pada kaki Ibu yang sudah membengkak dan berwarna ungu. Perbannya yang berdarah sudah hampir terkelupas, sehingga memperlihatkan luka yang belum kering dan terlihat menjijikkan.

Dadaku langsung berdegup kencang. Aku takut. 

“Om… itu kakinya Ibu …kenapa?”

Om Wawan tidak langsung menjawabku, melainkan mengecek kaki Ibu yang bengkaknya terlihat mengerikan.

“Lukamu ini kayaknya infeksi, Las. Kamu harus ke dokter.”

Namun lagi-lagi Ibu menggeleng lemah di atas kasur. Di saat yang sama, Mbak Firsta mendadak datang dari arah pintu, membawa sebaskom air kompresan dan kain. Dia berlari sampai menyenggolku hingga aku hampir jatuh.

“Badannya panas banget ini, Firs. Ibumu harus dibawa ke dokter,” kata Om Wawan.

“Ibu nggak mau, Om. Waktu itu udah kami paksa, tapi katanya bakalan sembuh sendiri.”

“Sembuh sendiri gimana? Luka kayak gini kalau dibiarkan malah bahaya! Emangnya kamu mati cepet mati, Las?”

Om Wawan berdecak saat melihat reaksi Ibu yang hanya melenguh saja di atas kasur. Satu kaki Om Wawan menendang udara seperti orang kesal. Ibu tetap berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, tapi Mbak Firsta dan Om Wawan sama-sama menahannya. Dengan suara serak dan kondisi linglung, Ibu berkata, “Mau … ke toko….”

“Bu, tahan dulu! Ibu lagi sakit!” kata Mbak Firsta sambil mendorong lagi Ibu ke tempat tidur, tapi tangan Mbak Firsta ditepis dan Ibu masih memaksa berdiri. Mbak Firsta mulai marah-marah dan meremas pundak Ibu supaya merebah. Om Wawan juga membantu. Om Wawan memegangi kedua kakinya hingga Ibu akhirnya kelelahan sendiri dan terpaksa menurut. 

Lihat selengkapnya