Om Wawan menikahi Ibu tanggal 5 Januari 2018, satu bulan setelah aku melaksanakan ujian kenaikan kelas 2 SD. Ibu dan Om Wawan tidak punya uang untuk menyewa panggung untuk acara pernikahan yang besar, jadi mereka memilih cara mudah dengan menikah di kantor desa, yang hanya dihadiri pihak keluarga dan beberapa tetangga.
Kini aku telah resmi memiliki ayah baru. Om Wawan juga tinggal di rumah bersama Ibu dan kami berdua. Namun, sampai saat ini aku masih belum terbiasa memanggilnya “Ayah” atau “Bapak”. Ibu berulang kali memintaku memanggilnya dengan sebutan baru, seperti yang bisa dilakukan Mbak Firsta dengan mudah (Mbak Firsta memanggil Om Wawan ‘Bapak’. Akan tetapi aku selalu lupa memanggilnya demikian. Untung saja Om Wawan tidak pernah marah. Atau mungkin Om Wawan tidak begitu peduli bila aku memanggilnya “ayah” atau tidak.
Satu hal yang kutahu, setelah pernikahan itu, kehidupan kami agak berubah. Ibu menjadi sering sekali bersama Om Wawan. Setiap pagi, Ibu lebih senang berlama-lama di dalam kamar, dan baru keluar ketika salah satu dari aku atau Mbak Firsta selesai bersiap-siap ke sekolah. Rasanya aku juga jadi lebih jarang memandang wajah Ibu. Setiap pulang sekolah, Ibu belum pulang. Ibu biasanya baru pulang ketika aku sedang tidur siang atau sore, dan langsung pergi lagi sampai tengah malam. Di rumah, justru Om Wawan yang sering kulihat. Dia lebih sering tidur-tiduran, menonton video di hape sambil tertawa-tawa, atau duduk di teras rumah sambil merokok. Kadang-kadang menyapa tetangga yang lewat, bercerita ini-itu. Om Wawan baru akan pergi bila abangnya yang bernama Dedi itu menelepon, entah menyuruh apa. Dan setiap kali pulang lagi ke rumah, Om Wawan jarang datang dengan tangan kosong. Seringnya Om Wawan membawa bungkusan berisi pisang, mangga, jeruk, pepaya, atau lele hidup dan ikan nila. Katanya itu dari kebun dan tambak abangnya. “Mas Ded sekarang kaya raya,” begitu kata Om Wawan kepada Ibu, di suatu pagi sebelum aku berangkat sekolah. “Mertuanya kan baru aja meninggal, istrinya dapet warisan kebun sama tambak buat diurus. Enak kan kamu nikah sama aku?”
Aku tidak tahu apa jawaban Ibu saat Om Wawan berkata seperti itu. Aku juga tidak melihat bagaimana wajah Ibu. Mungkin Ibu senyum, atau tertawa. Ibu selalu suka kalau kami mendapat lauk tambahan di rumah. Sebab itu artinya Ibu tidak perlu belanja ke pasar. Lagi pula, aku suka ikan lele dan nila yang dibawakan Om Wawan. Menurutku rasanya lebih enak daripada ayam dan telur. Aku suka setiap kali Om Wawan pergi ke rumah abangnya, karena aku selalu menanti-nanti apa yang Om Wawan bawa pulang. Kalau Om Wawan baru pulang dari suatu tempat, biasanya aku menjadi yang pertama menyambut di depan pintu sambil berteriak, “Bawa apaan, tuh?”
Bila membawa sesuatu, Om Wawan akan menyodorkan kantong plastik padaku dan menyuruhku meletakkannya ke dapur. Bila tidak membawa apa-apa, Om Wawan akan mengangkat kedua tangan sambil berkata dengan kecut, “Makan angin!” Aku akan memberengut setiap Om Wawan tidak membawa apa-apa.
Suatu pagi, saat mau berangkat sekolah, aku melihat Om Wawan sedang duduk di karpet, menonton video dari hapenya. Tidak ada makanan apa pun di meja dapur, jadi kusimpulkan hari itu aku tidak sarapan. Aku bertanya pada Om Wawan ke mana Ibu, dan kata Om Wawan, Ibu baru saja berangkat kerja.
Di saat bersamaan, Mbak Firsta keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Suara napasnya yang kasar terdengar sampai sini. Mbak Firsta menghampiri Om Wawan di karpet, lalu bertanya, “Pak, nggak ada nasi, ya? Kemarin kayaknya masih ada sisa lele.”
“Udah habis tadi Bapak makan,” jawab Om Wawan sambil terus menatap hape.
“Yah, padahal kemarin aku udah bilang Ibu supaya disisain. Hari ini aku pulang agak malem karena ada kegiatan, aku pengen bawa lelenya buat bekal.”