Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #26

Anak Preman

Belakangan, di kelasku, para anak perempuan membuat sebuah perkumpulan yang mereka sebut geng Rainbow Sisters, atau saudara-saudara pelangi. Aku tidak tahu mengapa mereka memilih nama itu. Bila nama itu mewakili karakter anggotanya, menurutku mereka tidak ada mirip-miripnya dengan pelangi. Mereka tidak mengenakan aksesoris warna-warni atau sesuatu yang berbau pelangi. Sebaliknya, mereka terkenal paling berisik di kelas. Setiap kali Bu guru mengajar, anggota geng yang duduknya berdekatan suka tertawa kencang atau membuat suara mirip hewan yang kadang-kadang membuat guru kami berpikir ada hewan betulan di dalam kelas. Mereka menganggapnya sebagai lelucon, padahal menurutku tidak lucu. Teman-teman yang lain juga tidak menganggap mereka lucu.

Anggota Rainbow Sisters ada empat. Yang menjadi ketuanya adalah Heyda, dan tiga anggota lainnya adalah Dini, Liona, juga Rara. 

Ya, benar, Rara yang itu. Sejak naik ke kelas dua, Rara semakin pandai bergaul sampai berhasil membuat geng bersama kawan-kawannya. Rara yang saat kelas satu pendiam, kini semakin sering kulihat menempel pada teman gengnya dan tertawa terbahak-bahak. Tidak jarang Rara dimarahi Bu guru karena berisik di dalam kelas, padahal dulu dia tidak pernah mengeluarkan suara sedikit pun kalau Bu guru sedang menjelaskan. Rara dan gengnya juga suka menyembunyikan barang kepunyaan teman-teman sekelas—seperti kotak pensil, baju olahraga, dan buku PR, sampai ada yang menangis karena merasa diganggu. Kalau sudah ketahuan Bu guru, Rara dan gengnya memang akan meminta maaf, tapi tidak lama kemudian mereka mengulangi perbuatannya ke orang baru. 

Aku tidak begitu peduli dengan Rara selama aku tidak pernah diganggu. Di dalam kelas, aku lebih sering sendirian dan mengobrol bersama teman sebangku saja. Aku duduk di baris tengah, sementara Rara bersama gengnya selalu duduk di barisan belakang. Mereka sering mengganggu teman-teman yang duduk di sekitar mereka. Dan karena aku jauh dari wilayah mereka, beruntungnya aku tidak pernah diganggu. Sejak kejadian kelas satu, Rara juga jarang sekali berbicara denganku. Bahkan mungkin tidak pernah. Aku tidak pernah lagi berada dalam satu kelompok bersama Rara, dan menurutku itu melegakan. 

Namun ternyata itu tidak bertahan lama.

Suatu hari, saat aku baru saja kembali dari toilet di jam istrirahat, geng Rainbow Sisters sedang duduk di mejaku. Mereka berhenti mengobrol ketika aku datang.

“Eh, tuh Lana!” Heyda tahu-tahu berdiri dan menghampiriku. “Lan, katanya Rara, ibumu pacaran sama cowok, ya?”

“Hah?” Aku menatap kebingungan.

“Iya, tadi Rara cerita ke kita kalau ibumu punya pacar. Kok bisa, sih? Emang boleh ya punya pacar? Ayah aslimu ke mana?”

Aku melirik Rara yang sedang berdiri di dekat bangkuku. Dia langsung menunduk, seolah tidak mau ikut-ikut.

“Ibuku udah menikah sama pacarnya. Sekarang pacarnya itu jadi ayah baruku.”

Heyda langsung manggut-manggut sambil menengok ke arah semua anggotanya, yang sama-sama manggut-manggut sok ngerti

“Terus ayah aslimu ke mana?” tanya Heyda.

“Emang itu urusanmu?” 

Lihat selengkapnya