Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #27

Membunuh Adik

Malam hari itu, Ibu pulang lebih cepat. Katanya saat menimbang sampah tadi dia merasa pusing, mual, dan tidak enak badan. Mbak Firsta langsung membuatkan Ibu teh hangat. Aku masuk ke kamar Ibu dan bertanya apakah Ibu juga mau makan, tapi Ibu bilang dia sedang tidak nafsu makan. Sebelum aku pergi, Ibu memintaku tinggal. 

“Oh ya, Lan, gimana sekolahmu?” tanya Ibu tiba-tiba.

“Ya gitu, deh.” Tidak ada jawaban lain yang bisa kupikirkan.

“Tugas-tugasmu nilai berapa? Sering dapet 100?”

Aku mengangguk. “Lumayan, sih. Tapi PR IPS kemarin dapet 90. Salah di satu nomor.”

Ibu mengangguk, senyum lebar. 

“Sama temen, gimana? Dulu katanya temenmu yang namanya Rara pengin diajak dateng ke rumah. Kamu kelas dua ini masih sekelas kan sama dia?”

“Itu… yaa, aku udah nggak temenan lagi sama dia.”

Kemudian Ibu menegakkan kepala dari kasur. “Loh, kenapa, Nak?”

Lalu aku mengedikkan pundak. Ibu menelengkan kepala dan memasang ekspresi seperti kecewa. “Terus sekarang kamu temenan sama siapa?”

“Nggak sama siapa-siapa.”

“Temen sebangku?”

“Bu, aku mau ngerjakan PR dulu, ya.” Aku pun berbalik, hendak kabur, tetapi Ibu mencegahku lagi. Katanya masih mau bicara sebentar.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini, Lan? Ibu lihat kamu jadi lebih sering diem. Di kelas ada masalah? Atau kamu berantem sama temen? Dimarahin guru?”

Aku ingin bercerita, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana, dan bagaimana berceritanya. Dan lagi, kalau aku bercerita kepada Ibu tentang alasan mengapa aku tidak ditemani, Ibu akan semakin sedih. Aku tidak ingin Ibu lebih sakit lagi. Aku tidak ingin masalah sekolahku membuat Ibu kepikiran macam-macam. Jadi, saat Ibu berusaha bangun dari kasur dan menyentuhku, aku malah mundur. 

“Aku bilang aku mau ngerjakan PR!” 

Kemudian aku berlari keluar, tanpa melihat ke belakang.


-oOo-

Lihat selengkapnya