Dokter sudah meminta Ibu untuk mengurangi aktivitas, termasuk bekerja. Akan tetapi, Ibu adalah orang yang keras kepala. Selama mengandung calon adikku, Ibu masih pergi bekerja menjaga toko, bahkan sesekali masih keluar di malam hari untuk mencari sampah. Mbak Firsta selalu menegur Ibu agar diam saja di rumah, tetapi kalau sudah marah, Ibu akan membentak balik, sambil mengulang kembali kata-kata yang sama; “Kalau Ibu nggak kerja, kita mau makan apa? Kamu bayar sekolah pakai apa? Listrik dibayar pakai apa? Mikir, kamu itu mikir! Hidup itu butuh uang!”
Setiap kali Ibu membahas itu, Mbak Firsta hanya bisa diam. Dia tidak melawan dan membentak balik seperti dulu. Begitu juga aku—tidak berani berkata apa-apa. Kami berdua tahu Ibu bekerja untuk mendapatkan uang, dan kami berdua tahu Ibu tidak mengizinkan kami putus sekolah untuk bekerja membantu Ibu. Jadi, kami melakukan apa yang sebisa mungkin mengurangi pengeluaran rumah tangga kami.
Mbak Firsta dan aku tidak pernah lagi meminta uang saku. Di sekolah, kami hanya minum air putih dari botol. Kami tidak pernah mengganti baju seragam atau sepatu. Kalau sepatu bolong, kami menjahitnya. Kalau seragam kebesaran, kami mengenakan sabuk agar seragam terlihat sedikit lebih rapi dan pas di badan. Saat mandi, kami tidak mengenakan sabun ataupun sampo karena tidak ada uang untuk membeli itu. Kami hanya menggosok badan dengan batu sampai kulit kami kering dan kemerahan. Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Mbak Firsta untuk berhemat, tetapi aku melakukan bagianku sendiri dengan tekun. Kalau buku sekolahku habis, aku akan meminta kertas ke teman-teman sekelas dan menstaplesnya di buku lamaku. Hari ini minta kertas ke si A, besok minta kertas ke si B. Aku juga tidak pernah membeli pulpen lagi karena sudah terbiasa meminjam milik teman. Tingkahku ini kadang membuat beberapa teman sekelas mengataiku pemalas, hanya karena aku tidak pernah membawa peralatan menulis. Namun, aku bisa apa? Aku tidak bisa bercerita pada mereka bahwa untuk makan saja kami tidak kesusahan.
Sementara bapak kami (akhirnya aku mulai terbiasa memanggilnya “Bapak”), sehari-hari lebih banyak diam di rumah. Kadang-kadang, Bapak pergi ke rumah Pakde, lalu pulang membawa makanan—yang mulanya kami percaya—pemberian keluarga Pakde. Makanan yang Bapak bawa membantu kami melewati hari-hari tanpa rasa lapar. Namun lambat laun aku mulai belajar bahwa apa yang dilakukan Bapak ternyata adalah perbuatan memalukan. Aku baru sadar tentang hal itu karena suatu kejadian; tepatnya, saat kandungan di perut Ibu mencapai enam bulan, istrinya Pakde datang ke rumah untuk berkunjung. Namanya Bude Sumi. Wajahnya tidak seramah biasanya. Konon kata Mbak Firsta, saat itu Pakde dan Bude Sumi baru saja bertengkar. Singkat cerita, Bude Sumi datang menjenguk Ibu sambil membawa tiga sisir pisang kepok besar-besar. Di hadapan Ibu, Bude Sumi berkata, “Nih, kubawain pisang gede-gede biar tangan suamimu itu nggak asal nyuri dari kebun orang.”