Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #29

Ditinggal Ibu

Tepat seperti kata Mbak Firsta, adikku lahir pada bulan Februari di tahun berikutnya. 

Dan Ibu meninggal sehari setelahnya.

Kejadiannya sungguh singkat, tetapi membekas selamanya di benakku. Di malam sebelum adikku lahir, ketuban ibuku pecah. Tanggal kelahiran adikku rupanya meleset dari perhitungan awal. Ibuku terjatuh ke lantai, mengaduh kesakitan dengan suara sumbang seperti kambing yang disembelih. Bapak saat itu pergi entah ke mana—kami meneleponnya berkali-kali dan tidak mendapat sahutan. Jadi, Mbak Firsta berlari keluar, memukul-mukul pintu rumah tetangga kami yang kebetulan sehari-harinya bekerja sebagai perawat. Situasi yang sudah darurat membuat kami tidak punya waktu untuk mengantar Ibu ke rumah sakit. Akhirnya, tetangga kami membantu persalinan Ibu di rumah. Tidak sampai setengah jam, adikku lahir. Suara tangisannya menggelegar, membuat kami semua melepas rasa lega. Namun, tidak lama setelah adikku selesai dibasuh, Ibu kami jatuh tertidur—setidaknya itulah yang kami kira, sebelum akhirnya kami dilanda panik karena Ibu tidak kunjung bangun meski sudah kami guncang. Tetangga bilang, kondisi Ibu drop sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Jadi, Mbak Firsta berlari keluar lagi untuk menggedor pintu rumah tetangga yang lain, memohon bantuan agar bisa mengantar ke rumah sakit. Syukurnya ada yang mau meminjamkan mobilnya.

Kata dokter, Ibu jatuh koma akibat pendarahan terlalu banyak. Fisik Ibu yang lemah juga memperparah pemulihannya. Setelah dokter menyarankan Ibu untuk rawat inap, kami mencoba berbagai cara untuk membuat Ibu sadar. Aku dan Mbak Firsta bergantian memeluk Ibu, juga mencoba untuk mendekatkan bayi Ibu yang baru lahir ke dadanya. Kata Mbak Firsta, cara itu pernah berhasil dilakukan sebagian orang yang bernasib sama dengan Ibu. Namun, Ibu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. 

Bapak yang datang terlambat, bertingkah sedih dan frustrasi saat melihat Ibu yang tidak sadarkan diri. Dia menciumi pipi Ibu, mengusap kepalanya, lalu pandangannya bergeser pada bayi Ibu, yang saat itu berada dalam gendongan Mbak Firsta. Kami belum memberi bayi itu nama, bahkan belum membisiki adzan di telinganya. Bapak hanya menatap bayi itu, kemudian bertanya, “Laki atau perempuan?” 

“Perempuan,” kata Mbak Firsta. 

Bapak menghampiri Mbak Firsta, lalu meminta bayi itu. Dia melihat adik mungil kami yang kini terselip di antara lengannya yang besar. Kata-kata Bapak berikutnya terdengar aneh di telingaku.

“Kurus banget. Berapa beratnya?”

“Dua koma empat kilo, Pak.” 

“Wajahnya nggak mirip aku.” 

“Kan masih bayi, Pak.”

Lihat selengkapnya