Sejak ditinggal Ibu, kami belajar hidup dengan mengandalkan diri satu sama lain. Waktu berlalu sedikit lambat, karena aku memahami betapa susahnya hidup tanpa orang dewasa yang merawat kami dengan benar. Hari-hari yang melelahkan terus kami lalui hingga akhirnya aku sudah cukup besar untuk memahami keterpurukan ini. Tahun ini aku menempati bangku kelas 5 SD, sementara Mbak Firsta pasti akan naik ke kelas 3 SMA andai saja dia melanjutkan kuliah sejak lulus dari bangku SMP. Tapi, tidak. Kehidupan yang rumit membuat kami berkorban banyak hal, dan Mbak Firsta sudah melakukan pengorbanan terbesarnya dengan tidak melanjutkan sekolah.
Setelah melepaskan pendidikannya, Mbak Firsta mulai belajar bekerja. Awalnya dia bekerja sebagai buruh cuci di sebuah kedai makan, tetapi pekerjaannya tidak berlangsung lama karena Mbak Firsta katanya mendapatkan tekanan mental saat mengetahui kedai makan itu adalah milik salah satu kawan dekatnya di SMP. Mbak Firsta tidak mau berurusan dan bertemu lagi dengan teman-teman lawasnya, itulah alasan singkat yang dia katakan padaku saat aku mencoba bertanya mengapa dia mendadak mengundurkan diri dari pekerjaan buruh cuci. Kupikir Mbak Firsta hanya malu karena bertemu temannya. Sebab aku juga seperti itu. Aku juga tidak suka bertemu teman di luar kawasan sekolah, karena mereka pasti akan mulai penasaran dengan kehidupanku. Satu kali aku pernah bertemu salah satu teman ketika baru pulang dari menjual botol-botol bekas. Keesokannya, yang lain mulai bertanya macam-macam. Di mana rumahku, apa yang kukerjakan, dan mengapa pakaianku kotor. Saat aku memilih tidak menjawab, gosip tentang siapa aku mulai terdengar. Kurasa sejak saat itu teman-teman sekelas sepakat menggolongkan aku sebagai orang miskin. Sebetulnya aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku, tapi aku betul-betul tidak nyaman dengan perubahan sikap teman-teman sekelas. Mereka senang menertawakanku saat aku lewat. Kadang kudengar mereka berbisik-bisik sambil menutup hidung—mungkin dengan cara itu mereka ingin aku tahu bahwa badanku bau. Para anak laki-laki juga membuat lelucon bahwa rambutku seperti sarang burung. Terkadang mereka menyelipkan sampah di rambutku tanpa sepengetahuanku, sampai beberapa teman yang baik hati mengambilnya dan mengatakan padaku bahwa ini ulah para anak laki-laki. Aku selalu berusaha agar tidak meledak di depan mereka, karena kalau aku menunjukkan reaksi, mereka pasti akan semakin menertawakanku. Itulah sebabnya aku memilih tidak berteman, dan tidak menyapa siapa pun di jalanan. Aku juga berpikir Mbak Firsta mungkin merasakan apa yang kurasakan, makanya dia memilih mengundurkan diri dari buruh cuci daripada harus menahan sabar menjadi bahan perbincangan mantan temannya semasa SMP dulu.
Setelah lepas dari buruh cuci, Mbak Firsta mencoba berbagai macam pekerjaan lagi. Dari penjaga kios minuman, penjaga kios pulsa, penjual jajan keliling, sampai pegawai fotokopi. Sekarang dia bekerja menjadi cleaning service di sebuah kantor konsultan pajak. Gajinya cukup untuk biaya hidup kami yang pas-pasan, tapi kami kesulitan sekali untuk menabung. Kalaupun di bulan pertama ada sisa uang, selalu ada pengeluaran tak terduga di bulan berikutnya, yang membuat tabungan itu tergerus sampai nol tak bersisa. Kadang kala aku bersikeras pada Mbak Firsta agar membiarkanku membantunya bekerja menjadi buruh cuci—karena menurutku itu pekerjaan paling mudah yang bisa kulakukan sepulang sekolah—hanya supaya kami memiliki uang tambahan untuk ditabung. Namun Mbak Firsta, seperti Ibu dulu, melarangku untuk berpikir tentang uang. Tugasku hanya belajar dan belajar. Aku ditargetkan untuk selalu ranking sepuluh besar, lulus dengan nilai bagus, dan melanjutkan ke SMP negeri. Bagiku target itu tidak mudah. Nilaiku memang selalu bagus. Aku selalu mengumpulkan tugas tepat waktu dan mendapat poin tambahan dari hasil menjawab pertanyaan. Sayangnya, aku menciptakan banyak pelanggaran di sekolah yang membuat guru-guru serta teman-teman memilih untuk tidak mengandalkan aku. Masalah terbesarku adalah keterlambatan dan ketidaksopanan.
Seperti sekarang, aku berdiri menghadap tiang bendera sambil bersikap hormat. Sudah hampir satu jam aku berdiam di posisi ini sampai sekujur tubuhku pegal. Kupikir mungkin aku harus berpura-pura pingsan saja supaya guru-guru membebaskanku dari hukuman. Namun di detik saat aku hendak menjatuhkan diri, seorang guru berseru dari kejauhan agar aku kembali ke tempat teduh.
“Lana,” kata Bu Risma, wali kelasku, ketika aku kembali ke depan pintu kelas, “Sudah merenungi kesalahanmu?”
Aku mengangguk.
“Apa yang kamu perbuat tadi?”
“Saya mendorong Andre sampai jatuh.”
“Ini sudah ketiga kalinya Ibu dapat laporan kamu mengganggu teman sekelas dengan kasar. Sekali lagi kamu berbuat seperti tadi, Ibu bawa kamu ke ruang kepala sekolah.”
“Saya nggak akan ganggu kalau orang lain nggak ganggu saya duluan, Bu. Andre yang pertama isengin saya. Dia nuang glitter ke rambut sa—”
“Ibu dengar sendiri Andre sudah minta maaf ke kamu, tapi sama kamu malah diajak berantem. Apa itu sikap yang benar?”
“Dia nggak tulus minta maafnya. Mana ada orang minta maaf sambil ketawa?”