Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #31

Kunjungan Mendadak

“Triyas disuapin yang bener, Lan. Makanannya belepotan itu, loh.”

Teguran Mbak Firsta membuatku sadar dari lamunan. Aku cepat-cepat mengusapkan kain lap di sekitar mulut Triyas, adikku yang berusia tiga tahun setengah. Adikku tertawa dan memuncratkan makanannya. Aku memarahinya dan menyuruhnya patuh, lalu dia melihatku sambil senyum-senyum seperti bayi bodoh. 

Aku dan Mbak Firsta sepakai menamai adik kami Triyas Putri, yang memiliki arti Putri Ketiga. Sejak sepeninggal Ibu, beban mengurus Triyas jatuh sepenuhnya pada kami berdua. Beruntungnya, di tahun pertama kelahiran Triyas, kami mendapat banyak bantuan dari beberapa tetangga. Kami mendapat susu formula, makanan bayi, dan pakaian-pakaian hangat serta popok. Bantuan itu saja sudah membuat kami sangat bersyukur, belum lagi para tetangga masih berbaik hati menggantikan merawat Triyas saat kami berdua di sekolah. 

Sementara Bapak, semenjak Ibu meninggal dia semakin jarang pulang. Sesekali pulang hanya untuk bersantai. tiduran di rumah, lalu menggendong Triyas dan menghiburnya sebentar, kemudian pergi lagi. Awalnya kukira Bapak masih mengunjungi rumah Pakde Dedi, tetapi rupanya perseteruan mereka beberapa tahun lalu masih awet hingga sekarang. Pakde Dedi sudah tidak pernah bertukar kabar dengan keluarga kami semenjak istrinya datang ke rumah dan memprotes kelakuan Bapak kepada Ibu. Mereka bahkan tidak pernah melihat Triyas dan mungkin menganggap kami bukan lagi bagian dari keluarga. Meski demikian, aku dan Mbak Firsta tidak menyimpan dendam pada keluarga Pakde. Bila dipikir secara nalar, kami tidak punya masalah apa pun dengan Pakde. Hanya Bapak dan keegoisannya saja. 

Meski demikian, bertambahnya anggota keluarga dalam rumah kami rupanya sangat merepotkan. Triyas butuh nutrisi banyak karena dia masih bayi, begitulah yang sering dikatakan Mbak Firsta. Namun keadaan ekonomi kami hanya mampu untuk memberi makan Triyas dengan nasi atau umbi-umbian rebus. Triyas sudah berhenti minum susu ketika dia berusia enam bulan. Sebagai gantinya, Mbak Firsta memberinya air biasa atau terkadang rebusan gula merah. Menurut kami itu sudah cukup. Asalkan Triyas bisa makan dan tidak menangis. Asalkan Triyas bisa ditinggal sebentar sementara kami melakukan pekerjaan rumah.  

“Kamu kenapa sih dari tadi nyuapin Triyas kok malah ngelamun?” tanya Mbak Firsta yang sedang membaca buku sambil tengkurap di lantai. 

“Nggak papa,” kataku, yang sayangnya tidak mendapat sinyal baik-baik saja dari Mbak Firsta. Dia tahu ada yang salah. Mbak Firsta meletakkan bukunya di lantai, lalu duduk bersila di hadapanku.

“Kamu diganggu lagi di sekolah?”

Aku menunduk. Terdengar hela napas Mbak Firsta. Dia tahu tebakannya benar.

Mbak Firsta sebenarnya tahu bagaimana keadaanku di sekolah. Kadang-kadang aku bercerita padanya hanya agar aku tidak merasa kesal sendiri. Tindakanku ini syukurnya membuat Mbak Firsta lebih memahamiku daripada Ibu dulu. Mbak Firsta tahu aku bukanlah anak nakal seperti yang sering dibicarakan guruku kepada Ibu dulu. Dia ada di pihakku. Bagiku itu sudah sangat cukup. 

“Sama bocah songong yang namanya Heyda?”

Aku mengangguk. Triyas mengecap-ngecap minta makan lagi. Aku memasukkan sesendok nasi ke mulutnya,

“Kali ini apa?” tanya Mbak Firsta.

“Heyda bilang aku nggak usah sekolah kalau nggak punya sepatu.”

“Sepatumu rusak?” 

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Terus besok kamu pakai apa?”

“Pakai sepatunya Mbak Firsta yang dulu aja, kan masih ada.” 

“Tapi kebesaran buat kakimu.”

“Nggak papa, yang penting pakai.”

Triyas minta makan lagi. Aku menyuapinya.

Mbak Firsta menghembuskan napas. “Terus tadi gimana sama Heyda? Pas dia bilang gitu, reaksimu apa?”

“Ya diem aja, masa mau kupukul. Siangnya aja aku baru dihukum hormat ke bendera, masa pulang sekolah nambah hukuman lagi?”

Lihat selengkapnya