Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #32

Mengulang Pertemanan

Aku menatap mobil hitam yang diparkir agak jauh dari rumah, kemudian pandanganku bergeser pada Rara. Dia menatapku sebentar, lalu menunduk. Di tangannya ada sebuah tas kecil yang kelihatannya berisi sesuatu. Sebelum aku sempat melayangkan pertanyaan, Rara memberikan tas itu kepadaku.

“Ini buat kamu.”

Aku mengambil tas itu. Tanpa sadar mataku melirik ke arah kamar, yang pintunya terbuka sedikit. Di balik pintu itu, kulihat Mbak Firsta sedang mengintipku. Dia pasti berpikiran sama denganku. Untuk apa teman sekelas tiba-tiba datang berkunjung ke rumahku malam-malam begini? 

Sambil menenteng tas pemberian Rara, aku berkata padanya. 

“Makasih, tapi … kamu tahu rumahku dari mana?”

“Tanya ke wali kelas. Mamaku yang tanya, sih.”

Aku mengangguk, menatap mobil Rara yang terparkir di luar sana sekali lagi. “Kamu ke sini sama mamamu?”

Rara menggeleng. “Sama sopir aja. Tapi aku udah izin kok sama mamaku.”

“Yakin? Emang dibolehin? Mamamu kan nggak suka sama aku.”

Rara tidak menjawab apa pun. Kuduga keraguanku pasti benar. Jangan-jangan Rara pergi ke rumahku diam-diam. 

Yah, walau begitu, aku tidak peduli urusan Rara dengan mamanya. Yang kupedulikan cuma satu; kenapa dia datang kemari? Ketika aku menanyakan hal itu, Rara kelihatan tidak bisa menjawabnya. Atau mungkin dia hanya malu. Atau bingung.

“Aku boleh buka tas ini, nggak?” tanyaku.

Rara mengangguk. 

Sebetulnya aku agak terkejut karena rasanya sikap Rara kembali seperti saat kami kelas satu dulu. Anak yang pendiam dan pemalu. Dia tidak seperti sebagaimana dia bersikap di kelas; berisik bersama gengnya. Anak nakal yang sering ditegur guru.

Ketika tas kubuka, di dalamnya ada sebuah kotak putih. Aku mengeluarkan kotak itu dan membukanya lagi. Isinya sepasang sepatu hitam yang tampak baru dan mengilat.

Aku menatap Rara, dan tidak menemukan kata-kata tepat untuk bereaksi.

Rara tiba-tiba tersenyum sedikit. “Dipakai ya, besok.”

Kotak sepatu itu kuletakkan pelan-pelan di atas karpet. Aku tidak tahu apa yang sebetulnya kurasakan. Jujur saja, aku tidak senang-senang amat saat diberi hadiah begini. Justru aku bingung mengapa Rara tiba-tiba datang dan memberiku sepatu. Apakah dia ingin mengejekku karena aku tidak bisa membeli sepatu? Karena itulah yang selalu dilakukan gengnya, bukan? Mungkin Rara datang ke sini atas perintah Hayda. 

Namun, menolak pemberian Rara secara tiba-tiba atau bereaksi kasar padanya juga bukan hal tepat. Aku merasa Rara tidak pantas mendapatkan ejekan dariku meskipun aku merasa dia baru saja mengejekku dengan sepatu ini. Ekspresi Rara, sikapnya ketika bertamu… mengingatkanku dengan Rara dulu. Entah mengapa … aku sedikit rindu dengan pertemanan kami berdua. 

“Kok kamu ngasih aku sepatu sih?” Aku bertanya penasaran.

“Karena aku tahu kamu butuh.” Rara membetulkan letak kacamatanya. “Tadi siang … pas kamu hampir jatuh gara-gara sol sepatumu copot, aku sebenarnya pengen tawarin kamu sepatu, karena di rumah aku punya beberapa pasang yang belum kupakai sama sekali—pemberian saudara-saudaraku. Tapi sebelum aku ngomong, Heyda tiba-tiba dateng.”

“Oh… kok kamu tiba-tiba berbaik hati gini? Bukannya selama ini kamu juga nggak suka sama aku?”

“Itu… ya… sebenarnya dulu aku emang sempat sebel sama kamu, tapi lama-lama aku biasa aja. Hanya aja aku jadi susah deket sama kamu karena kamu….”

“Karena aku apa?”

“Ya aku nggak berani aja ngomong sama kamu.”

“Nah iya, kenapa?” 

Lihat selengkapnya