Rara benar-benar menepati omongannya di keesokan hari. Dia sudah datang ke kelas duluan dan duduk di tempat yang biasanya diduduki Amel. Saat melihatku, Rara tersenyum, sampai kacamatanya menjadi miring. Sementara aku juga menepati janji dengan memakai sepatu pemberian Rara. Kami berdua duduk di bangku itu dan mendapatkan berbagai respons dari sekitar.
Wali kelas kami yang berani bertanya di jam awal ketika kami memulai pelajaran.
“Kok tumben kalian duduk bareng?”
“Kita berdua satu geng, Bu.” Rara tiba-tiba merangkul bahuku. “Nama gengnya … Lovely Squad!”
Semua murid di dalam kelas bersorak-sorak. Ada yang merasa nama itu keren, ada juga yang hanya tertawa. Sebagian anak laki-laki tertawa. Tapi ada yang malah diam saja. Itu sudah pasti Heyda dan gengnya.
Bu guru menggelengkan kepala sambil tersenyum, kemudian kembali mengajar. Aku menatap Heyda dan mengedipkan satu mataku. Dia membalas agak kelewat bersemangat.
Sepanjang hari itu, kelas berjalan lancar. Rara tidak lagi mendapat teguran karena berisik bersama geng lamanya. Saat duduk bersamaku, kami sama-sama belajar dengan tenang dan saling mengajari. Aku mengajari Rara Matematika, dan Rara mengajariku Bahasa Inggris. Dia sangat pintar Bahasa Inggris karena di rumah punya guru les privat sendiri. Meski begitu, Rara tetap bilang bahwa aku lebih hebat karena bisa mengerjakan soal sulit Matematika meskipun aku tidak punya guru les.
Di sela-sela istirahat, aku mengajak Rara ke kantin. Di sana kami bertemu Heyda dan juga gengnya. Seperti yang kami duga sebelumnya, Heyda memblokir jalan kami berdua dan langsung bertanya pada Rara mengapa sekarang dia tidak bersama Rainbow Sisters lagi.
Rara menjawab dengan kikuk, “A-aku pengen temenan aja sama Lana. Emang nggak boleh?”
Aku tahu sebetulnya dia masih agak takut untuk menghadapi Heyda seperti ini.
“Hati-hati, loh. Kalau temenan sama dia, nanti kamu ketularan jadi preman!” kata Heyda, kemudian dua anggota geng di belakangnya tertawa. Biasanya aku akan langsung menyerang Heyda dengan menjambak rambutnya. Aku tahu Heyda pun bisa merasakan itu. Heyda mundur sejenak dariku seolah ingin melihat apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Namun aku sudah diajari Mbak Firsta untuk melawan dengan cara benar; mata dibalas mata.
“Preman yang ini nggak punya mulut busuk dan sifat pembully kayak kamu.”
Heyda melotot. Tiba-tiba saja dadanya membusung sambil melangkah maju. “Kamu bilang apa barusan?”
“Budeg, ya? Masa sedeket ini nggak denger aku ngomong apa? Makanya punya kuping dibersihin. Jangan mulut aja yang dipake buat gosip!”
Kemudian, Heyda tiba-tiba saja mengumpat keras sambil mendorong bahuku ke belakang. Aku goyah, tetapi tidak jatuh. Rara langsung memegangiku dan dengan sigap berteriak di sekitar, “IH, HEYDA NGOMONG JOROK! BU GURU, PAK GURU, HEYDA NGOMONG JOROK KE LANA!”