Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #34

Kabar Duka

Keesokannya, aku tidak bisa menjalani hari dengan tenang. Aku terus bersikap agak diam bahkan sampai bel terakhir berbunyi. Rara berusaha menenangkan aku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Aku hanya mendengarkan, tapi tidak benar-benar yakin. Bila semuanya baik-baik saja, mengapa Mbak Firsta tidak bicara padaku melalui telepon? Sesakit-sakitnya Mbak Firsta, dia selalu bisa menyempatkan berbicara padaku. 

Apakah telah terjadi sesuatu pada Mbak Firsta?

Atau pada adikku?

Setelah bel berbunyi, aku dan Rara menunggu Bude Sri untuk menjemput. Rupanya Bude Sri datang sepuluh menit lebih lambat dari seharusnya. Begitu sampai di depan gerbang, Bude Sri tersenyum dan menyuruhku duduk di jok motornya. Rara menepuk pundakku, kemudian dia sendiri pergi masuk ke mobilnya yang sejak tadi ikut menungguku. Di perjalanan, aku bertanya Bude Sri apa yang terjadi. Dia hanya diam saja, mungkin pura-pura tidak mendengar pertanyaanku.

Tepat di halaman rumahku, ada beberapa kendaraan yang sudah terparkir. Dua kendaraan bermotor, dan satu mobil. Pada skenario terburuk yang bisa kubayangkan, aku begitu takut bila Mbak Firsta ataupun adikku meninggalkanku. Mbak Firsta tidak bicara padaku semalaman. Bila dipikir-pikir Bude Sri juga tidak membahas tentang Triyas sama sekali. Lantas apakah benar terjadi sesuatu pada adikku?

Mataku jelalatan ke segala penjuru, berharap sungguh-sungguh tidak menemukan bendera kematian yang digantung atau keranda yang baru dikeluarkan. Mungkin pemikiranku ini bodoh dan konyol, tapi aku tidak bisa berhenti membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada salah satu atau kedua saudaraku. Aku langsung turun dari motor dan berlari ke dalam rumah.

Seorang tetangga yang tak kuhafal namanya menyambutku di dalam. 

“Mbak Firsta mana?” Aku bertanya. Mereka kelihatan ragu untuk menjawab. Aku membentak lebih keras, “MBAK FIRSTA MANA?!”

“Lana?” 

Aku menoleh ke seberang ruangan. Mbak Firsta muncul dari balik pintu. Wajahnya kuyu dan pucat. Rambutnya berantakan. Begitu aku menghampirinya, Mbak Firsta langsung memelukku erat. Aku tidak kuasa menahan tangis di hadapannya, jadi pada saat itu, kulepaskan semua beban yang sejak tadi kupikul. Tangan orang-orang menuntun kami yang masih berpelukan masuk ke dalam kamar. Aku akhirnya melepas pelukan dan menatap Mbak Firsta. 

“Mbak … kenapa?” 

Rupanya kegelisahanku juga ada benarnya. Baru kuperhatikan sekarang, wajah Mbak Firsta memar dan lecet-lecet. Matanya lebam dan sedikit lebih besar daripada sebelahnya, seperti kena hantam sesuatu. Aku menunduk dan melihat beberapa plester luka menutupi lengan dan kaki Mbak Firsta. Meski begitu kacau, Mbak Firsta tidak berkata apa-apa padaku. Dia tidak menunjukkan kesakitan. Namun ekspresinya menunjukkan kekosongan dari sesuatu yang tidak bisa kubaca sebelumnya. 

Bude Sri datang menyuruhku menjauh sedikit. Katanya, Mbak Firsta akan kesakitan kalau aku memeluknya terlalu keras. 

“Mbak kecelakaan?” Cuma itu yang terpikir di kepalaku.

Bibir Mbak Firsta melengkung ke bawah. Kupikir dia akan memarahiku, tetapi ternyata Mbak Firsta menangis. Bude Sri menenangkan Mbak Firsta sambil menepuk-nepuk pundaknya, berkali-kali berkata, “Sabar ya, sabar.” 

Aku teringat apa arti kalimat itu bagiku.

Lihat selengkapnya