Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #35

Epilog

Mbak Firsta memutuskan untuk tidak menghadiri makam Bapak. Semenjak segala permasalahan itu ditangani dengan baik oleh para tetangga, Mbak Firsta mengurung diri di rumah sakit yang sama tempat adik kami dirawat. Kabar baiknya, Triyas tidak terluka parah. Hanya memar ringan. Sebuah keajaiban bahwa adik kami bisa selamat dari kecelakaan jatuh ke jurang, sementara bapak kami tidak. 

Para tetangga rajin mengunjungi kami. Kadang-kadang mereka bergantian untuk menjaga Triyas. Mereka melaporkan kejadian yang dialami Mbak Firsta ke polisi, dan untuk beberapa hari pertama, Mbak Firsta mendapatkan pendampingan spesial dari psikolog serta pihak perlindungan perempuan dan anak. Mereka menghabiskan satu jam di setiap minggunya untuk menanyai Mbak Firsta di sebuah ruangan. Aku tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan, tetapi pastinya hal itu membuahkan hasil yang cukup baik pada perbaikan mental Mbak Firsta—atau begitulah yang dikatakan Bude Sri kepadaku. Pada beberapa pertemuan, mereka juga menanyaiku secara pribadi. Ada banyak pertanyaan yang diajukan, tapi yang paling kuingat adalah mereka selalu menanyakan bagaimana perasaanku setiap kali kami bertemu. Apakah aku baik? Apakah ada sesuatu yang kupikirkan belakangan? Apakah aku berteman baik di sekolah? Apakah ada perlakuan teman atau tetangga yang membuatku tidak nyaman? Aku menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang hampir sama. Meski demikian, kata mereka, aku dalam kondisi lebih baik setiap waktu. 

Pada beberapa hari pertama, aku berupaya untuk tidak banyak berkomentar tentang Mbak Firsta. Kubiarkan dia melakukan apa yang dia mau. Mbak Firsta tetap bersikap seperti kakakku yang biasa. Setiap pulang sekolah, aku selalu mampir ke rumah sakit, dan Mbak Firsta akan bertanya bagaimana sekolahku hari ini. Aku mendampinginya dengan baik. Turut kurawat pula luka-luka Mbak Firsta sampai mengering sepenuhnya. Aku sesungguhnya tidak berharap Mbak Firsta akan bercerita tentang apa yang terjadi di hari itu, tetapi rupanya dia memiliki keberanian untuk mengungkapkannya padaku.

Sore itu, kami sama-sama berada di kamar rawat Triyas. Adikku baru saja minum obat dan kini tertidur pulas di atas ranjang. Selagi aku memperhatikan betapa lucu wajah Triyas yang sedang tidur, Mbak Firsta tiba-tiba berkata;

“Kamu inget nggak Lan, dulu tabunganku pernah hilang, dan aku diam-diam menuduh Ibu yang ngambil.”

Lihat selengkapnya