KELUAR DARI JAKARTA

ken fauzy
Chapter #2

KONDISI MEI 1998

Seminggu sebelumnya.

“Bang, Bang Soleh! Bangun!” Seorang pria berpakaian rapi pekerja kantoran tengah membangunkan sopir kantornya di parkiran gedung. Ia menggoyang-goyangkan tubuh pria betubuh gempal yang sedang tidur dengan mulut menganga di belakang kemudi itu. Ia menggeleng sambil bertolak pinggang, “Kacau, kalau ketahuan bos, bisa diomelin dia.” Lalu tersenyum mendapatkan ide. Ia mengambil sisa sambal terasi dari kotak kardus makan siang sopir dengan sendok lalu mengoleskan sambal itu di sepanjang jari telunjuk kanan sang sopir yang masih tertidur. Setelah itu, dengan menggunakan ujung sisa daun selada, ia mengusap-ngusap sekitar lubang hidung sang sopir sambil menahan tawa.

Sopir itu mulai menggerak-gerakkan hidungnya yang terasa gatal. Ujung selada terus diusapkan hingga membuat sang sopir tak tahan lagi. Sopir itu menggosok-gosokkan lubang hidungnya dengan telunjuknya. Sontak hidungnya menghirup bau tajam terasi dan rasa pedas yang menohok otak seketika membuat matanya melotot. “Wuaduh panas!!” teriaknya. Pria yang mengusilinya tertawa-tawa. Sopir itu mendelik ketika mendengar ada yang tertawa. “Jiah ternyata Pak Hendra nyang nusilin saya!” sebalnya sambil mengelap hidung beserta telunjuk tangannya dengan ujung kemejanya.

“Ya abis dari tadi gue bangunin lo ga bangun-bangun Bang!” geleng Hendra. “Iseng buanget sih Pak,” tukas Soleh. “Bang, jam istirahat makan siang itu udah selesai, waktunya kerja lagi, lo malah tidur … kalau si bos tahu, ntar gaji lo dipotong lagi kayak bulan kemarin, inget ga?” sahut Hendra. “Iyak, iyak … abisnyah, abis makan, ngantuk saya,” cengir Soleh.

Hendra berjalan ke pintu penumpang, membukanya lalu naik di sebelah Soleh. “Ade tugas keluar Pak?” tanya Soleh. Hendra mengangguk sambil menepuk-nepuk tas ransel biru di pangkuannya. Soleh sudah paham melihat itu. “Nah gini dong … kalo ade kerjaan saya kagak ngatuk lagi Pak.” Soleh menyalakan mobilnya. “Bang … ‘kan udah gue bilangin, kalau sama gue jangan panggil ‘pak’ lah … panggil nama gue aja, ga usah sungkan, lo kayak baru kenal gue aja … lagian gue juga lebih muda dari pada lo kali,” ujar Hendra.

“Ya kagak enak saya tadinya …” cengir Soleh sambil mengeluarkan mobil dari tempat parkiran. “Halah, pake ga enak segala … lo minjem duit ke gue enak-enak aja Bang,” sindir Hendra. “Eh iya yak,” tawa Soleh memamerkan giginya dengan sedikit daun selada yang masih menyelip. Mobil pun berjalan keluar gedung menyusuri jalan raya. Setelah berjalan beberapa lama, mobil terhenti karena di depan mereka tampak para mahasiswa yang tengah berdemo. “Mending cari jalan lain aja Bang, bakalan macet lama kayaknya nih di sini,” kata Hendra melihat banyaknya mahasiswa yang berkumpul memenuhi jalan. Soleh mengangguk.

Perlahan-lahan mobil yang ditumpangi Hendra dan Soleh keluar dari barisan kemacetan yang diikuti oleh mobil-mobil lain di belakang mereka. “Demo anak-anak masiswa mangkin kesini mangkin rame aje dah … mereka demo ‘ntu mau ngapain sih yak? Mending kuliah nyang bener,” celetuk Soleh. Hendra hanya diam tak menanggapi. Mobil melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah bank. Setelah mobil terparkir, Hendra pun turun diikuti Soleh. Mereka berdua masuk ke dalam gedung bank. Di dalam gedung, seorang customer service telah menunggu mereka di sebuah meja khusus yang disediakan bagi nasabah khusus mereka.

“Siang Pak Hendra,” sapanya. Hendra membalas sapaan wanita itu lalu menyerahkan tas ranselnya. “Baik tunggu sebentar Pak,” kata wanita itu lalu menyiapkan beberapa dokumen. Hendra mengangguk lalu duduk di kursi di hadapan meja customer service tersebut bersama Soleh. Tak jauh dari mereka duduk, tampak sebuah televisi yang menyiarkan berita mengenai antrian masyarakat untuk membeli beras disusul berita tentang demo yang dilakukan mahasiswa. Hendra menghela nafas melihat hal itu.

“Demo-demo itu semakin besar saja ya Pak,” celetuk wanita customer service membuat kaget Hendra. “Eh iya Mbak,” tanggap Hendra. “Saya agak khawatir melihatnya,” sambung wanita itu lagi seraya menyodorkan dokumen yang harus ditandatangani. Hendra pun menandatangani dokumen itu. “Tunggu sebentar ya Pak Hendra,” kata wanita itu, Hendra mengangguk. Kemudian wanita itu membawa tas ransel biru milik Hendra ke dalam ruangan berkaca di mana Hendra bisa melihat wanita itu mengeluarkan gepokan-gepokan dari dalam tas ranselnya lalu meletakkan di mesin penghitung uang.

Lihat selengkapnya