Televisi tabung layar 24 inch itu sedang menyiarkan berita pagi mengenai demonstrasi mahasiswa di Jakarta yang semakin ramai dan mulai diikuti oleh aksi-aksi demo mahasiswa di berbagai daerah lainnya. Aksi demo yang awalnya berjalan damai terkadang ditutup dengan bentrok antara mahasiswa dan aparat itu hampir selalu mengisi berita-berita di televisi. Televisi yang diletakkan di rak besi antara tumpukkan karung-karung tepung dan beras itu tidak ada yang menonton karena semua orang di dalam toko kelontong tersebut tampak sibuk.
Koh Liong, pemilik toko, tengah mengawasi kenek menurunkan barang-barang yang baru datang dari sebuah truk box. Sedang istrinya Ci Mei yang berada di belakang meja etalase sibuk melayani para pembeli yang ramai dibantu seorang pegawainya. “Gor, Goro … ambilin telur sekilo sama gula setengah dan kopi seperempat buat Ibu Siti nih,” kata Ci Mei pada pegawainya. “Siap Ci,” jawab Goro yang dengan sigap mengambilkan barang yang diminta Ci Mei. “Ci … tapi maaf, saya boleh ga bayar buat yang bulan kemarin dulu? Untuk yang ini masukkin ke bon?” tanya Ibu Siti harap-harap cemas takut tidak dikabulkan karena ia sudah sering berhutang di situ.
“Boleh Bu boleh, asal yang bulan kemarin diberesin dulu kalau mau bikin bon baru ya,” senyum Ci Mei. Ibu Siti dengan tompel di pipi itu tersenyum lega. “Terima kasih ya Ci.” Ci Mei mengangguk. Di dalam rumah yang berada di belakang toko, Linda, anak pertama dari Koh Liong dan Ci Mei sedang bersiap kuliah sedang adiknya, Alvin juga bersiap ke sekolah. “Sudah siap Vin? Jangan lama-lama, Cece nanti telat nih!” seru Linda pada adiknya yang masih berada di kamar. “Iya, iya Ce, bawel deh,” sahut Alvin.
“Gimana sudah semua barang lu turunin?” tanya Koh Liong sembari mengecek dokumen daftar barang di tangannya. Kenek itu mengangguk, “Udah Koh sesuai noh sama catetan yang Engkoh pegang.” Koh Liong manggut-manggut, menandatangani dokumen tersebut dan menyerahkannya pada kenek. “Hebat Koh, tokonya rame terus,” kata kenek itu melihat banyaknya pembeli, “feng shui-nya bagus Koh.” Koh Liong tertawa, “Emang lu tahu soal feng shui?” Kenek itu mengangguk. “Tahulah Koh, soal tata letak ruangan, posisi rumah, mata angin, saya tahu Koh.”
“Wah ternyata lu bukan kenek sembarangan ya?” Koh Liong masih tertawa lalu menyerahkan sedikit uang. “Bagi dua sama sopir lu.” Kenek itu tertawa senang, “Siap Koh!” Sambil menemani kenek truk itu menutup pintu truk box, Koh Lion berkata, “Lu mau tahu kenapa toko gue bisa rame?” Kenek itu mengangguk. “Soalnya di toko gue bisa kasbon,” bisik Koh Liong lalu tertawa. “Oalah, pantesan,” cengir kenek truk itu.
Di ujung jalan, seorang perempuan paruh baya berdiri di depan toko, melipat tangannya di dada sambil menatap tajam pada toko yang ramai itu. “Eh Bu Manus, ngapain berdiri di situ? Ini saya mau beli,” kata seorang ibu. Perempuan paruh baya itu masuk ke dalam tokonya. “Lagi ngeliatin toko Sinar Jaya punya si Ci Mei itu,” kata Bu Manus sambil melayani ibu pembeli, “saya curiga soalnya.” Ibu pembeli itu mengerutkan kening. “Curiga? Curiga kenapa Bu?” Bu Manus memajukan badannya dari balik etalase, memberi kode dengan tangannya pada ibu pembeli agar mendekat.
Ibu pembeli itu mendekat. “Saya curiga toko mereka pake pelet makanya rame!” bisik Bu Manus. “Ah masa sih Bu? Emangnya orang Cina tahu soal pelet-peletan juga?” kaget ibu pembeli. “Bu, ga cuma di kita doang yang pake pelet buat ngelarisin dagangan mereka juga pake, cuma dukunnya beda,” kata Bu Manus. Ibu pembeli itu mengangguk meski dalam pikirannya ia ragu. “Ibu tahu ga dukun mereka yang monyet-monyet itu, namanya Sun … Sun Go … Sun Go apa gitu … saya lupa … nah itu dukun pelet mereka,” lanjut Bu Manus. Ibu pembeli semakin meragu saja mendengar itu tapi untuk sekadar sopan santun ia menganggukkan kepala.
“Menurut saya sih, toko Sinar Jaya rame itu karena harganya memang lebih murah dan denger-denger bisa kasbon juga,” jelas ibu pembeli. Bu Manus mencibir, “Ga mungkinlah orang Cina kasih kasbon, mereka itu pelit-pelit kok.” Ibu pembeli tidak ingin meladeni lagi percakapan itu, ia segera membayar barang yang dibelinya, mengucapkan terima kasih lalu pergi. Bu Manus kembali berdiri di depan tokonya, melipat lagi tangannya di dada dan kembali menatap tajam pada toko Sinar Jaya.