KELUAR DARI JAKARTA

ken fauzy
Chapter #4

GORO DURJANO

“Dik Lin … Dik Linda.”

Linda menoleh saat mendengar namanya dipanggil. “Eh Bang Goro, ada apa Bang?” tanya Linda saat melihat orang yang memanggilnya itu ternyata Goro. “Malam ini, katanya ada pasar malam deket lapangan. Mau kesana ga? Kita berangkat bareng aja, ntar malam saya jemput kesini ya, saya pinjem motor temen kok,” urai Goro. Kalimat Goro itu terdengar seperti memberikan penawaran tapi Linda menangkapnya sebagai sebuah pemaksaan yang halus.

“Kayaknya engga Bang, capek baru pulang kuliah,” tolak Linda. Goro terlihat kecewa. “Ajak bibi sebelah aja Bang, dia pasti mau,” Linda memberikan saran agar Goro tak terlalu kecewa tapi Goro tak menanggapi, ia melanjutkan meletakkan karung-karung berisi tepung yang dibawanya ke rak penyimpanan. Linda lalu menuju belakang toko sedang Goro memerhatikannya. Tanpa sepengetahuan Linda, ia mengikuti. Linda masuk ke dalam rumah, meletakkan tasnya dan bersiap untuk mandi setelah pulang kuliah.

Di belakang toko, tampak sebuah rumah mungil yang kental dengan ornamen-ornamen Cinanya. Goro berjalan ke samping rumah. Ia melihat sebuah jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara bagi kamar mandi. Letaknya cukup tinggi sekitar dua meter lebih dari atas tanah. Goro menunggu sebentar kemudian terdengar suara kaki Linda yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sekitarnya. Setelah dipikir aman maka Goro mengambil dua buah kotak kayu bekas penyimpanan barang lalu menumpuknya di bawah jendela. Kemudian ia berdiri di atas tumpukkan kotak kayu itu kini tubuhnya yang pendek bisa menjangkau jendela. Perlahan tanpa suara Goro mengintip ke dalam kamar mandi. Dilihatnya Linda sedang membuka baju atasannya. Goro menatap tak berkedip melihat kulit Linda yang bersih, darahnya berdesir-desir membangkitkan nafsunya.

Saat Linda akan membuka celana panjangnya terdengar teriakan suara Koh Liong dari toko. “Goro! Goro! Lu di mana Goro?!” teriaknya. Mendengar teriakan itu membuat Goro terkejut. Dengan cepat ia turun dari kotak kayu, karena tergesa kotak kayu itu tertendang kakinya hingga menimbulkan bunyi. Linda yang berada di dalam kamar mandi mendengar suara itu lalu mendongak pada jendela ventilasi kamar mandi. Ia mengerutkan kening karena tak melihat ada siapa-siapa di situ.

 Goro mengembalikan kotak-kotak itu ke tempat semula dan bergegas mendatangi Koh Liong. “Iya Koh ada apa sih, saya lagi ngerapiin karung-karung tepung di belakang,” kata Goro bersikap biasa saja dan tak mencurigakan. “Lu orang udah lama kerja di sini, tapi masih aja lama kalau naro karung ke belakang … tuh lu bantuin ibu itu bawain karton-karton mie instan ke mobilnya,” sahut Koh Liong yang tengah sibuk melayani pembeli lainnya. Goro mengangguk. “Ngeborong mienya banyak banget Bu,” basa-basi Goro sambil membawa kardus-kardus mie. “Iya buat stok aja, jaga-jaga kalau toko tutup,” tawa ibu pembeli mie tanpa maksud apa-apa.

Akhirnya, pembeli terakhir telah dilayani dan toko bersiap tutup. “Gor, ini gaji mingguan lu,” kata Koh Liong menyerahkan sebuah amplop dan satu plastik yang berisikan lima kilo beras, sekilo gula, sebungkus kopi, seperempat telur dan lima bungkus mie instan. Goro mengangguk. “Koh sebelum pulang ada yang mau saya omongin,” kata Goro. Koh Liong dan Ci Mei saling pandang. Mereka berdua lalu menatap Goro. “Lu mau ngomong apa Gor?” tanya Koh Liong.

Lihat selengkapnya