“Gila jalanan macet parah ketahan demo, dan gilanya lagi mahasiswa yang ikut demo tadi makin banyak banget!” cetus seorang pria yang baru datang ke kantor jam 10 siang itu pada temannya. “Pastilah makin banyak yang ikut, itu akibat dari penembakan empat mahasiswa kemaren, mahasiswa dari Bogor, Tangerang, Bekasi pada datang kesini untuk ikut berduka dan memprotes penembakan kemarin dan ga di Jakarta ini aja, kayaknya di kota lain juga sama, mahasiswa pada kompak berdemo, malah gue denger hari ini di Bandung, ribuan mahasiswa berkumpul di Gedung Sate,” sahut temannya. “Gue sih salut sama kekompakan adik-adik kita ini tapi gue agak takut lihat kondisinya … tadi di jalan suasana jadi menegangkan, polisi bersiaga di mana-mana … gue khawatir ada yang memperkeruh demo mahasiswa ini,” tambah yang lain yang ikut bergabung dalam percakapan itu.
“Dalam kondisi begini, kenapa kantor kita masih masuk kerja sih ya? Harusnya kita diliburin kayak kantor lain, biar kita bisa ikut berdemo dukung mahasiswa!” timpal yang lain. “Betul, sekarang masyarakat juga mendukung gerakan mahasiswa ini, kantor kita malah kerja mulu,” sebal yang lainnya lagi.
“Eh Ndra, dari tadi lo masih kerja aje, ga ikutan ngobrol … yang lain lagi ngobrolin soal penembakan mahasiswa dan demo nih, lo ga ngikutin ya? … Lo malah kerja, rajin amat sih lo,” celetuk seorang rekan kerja pada Hendra yang terlihat tengah menghitung dengan kalkulatornya. “Iya Ndra, percuma di sini, rajin kerja juga kagak naik gaji,” tambah yang lain. Hendra tertawa lalu memutar kursi kerjanya hingga menghadap teman-teman kerjanya itu semua.
“Gue ngikutin kok berita soal demo dan kasus penembakkan itu … cuma gue ga mau ikut-ikutan, gue ga ngerti politik … mendingan gue ngitung duit buat gajian lo semua akhir bulan ini aja deh … mau gajian ga lo semua?” tanya Hendra. Teman-temannya seketika langsung mengangguk cepat. “Wah lo bener Ndra, setuju gue ama elo … ya udah lo lanjut deh ngitung duitnya,” kata temannya diikuti tawa yang lainnya. Hendra pun kembali bekerja.
***
Linda terlihat berlari dengan wajah tegang. Di kampusnya yang dekat dengan demonstrasi mahasiswa itu tampak kisruh. Para demonstran berlarian masuk ke dalam kampus dikejar-kejar aparat polisi setelah di acara demo itu terjadi bentrok. Linda bersama teman-temannya terus berlari menyelamatkan diri dan masuk ke dalam kelas untuk berlindung. Polisi tak membiarkan, mereka menyusul masuk kampus. “Gila, beran-beraninya mereka melanggar otonomi kampus,” geram seorang teman Linda. Mereka semua berkumpul di pojok kelas dengan jantung yang berdegup kencang sedang di luar terdengar teriakan-teriakan serta langkah-langkah sepatu lars.