Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #2

01. "Keluarga"

Langit-langit yang terbuat dari campuran serat karbon dan aluminium adalah hal pertama yang ia lihat ketika kedua matanya terbuka. 


Kondisi kamarnya terang karena lampu yang menyinari. Akan tetapi sumber pencahayaan yang berada di atasnya memiliki bentuk berbeda dari lampu normal. Bukan bola bulat, bukan lonjong, bukan bentuk lampu tradisional pada umumnya, melainkan 4 pipa panjang berpijar yang membentuk formasi persegi panjang. 


Ia menggosok kedua matanya sembari mengumpulkan kesadaran dari alam mimpi yang baru saja ia rasakan. 

Setelah yakin telah sadar sepenuhnya, ia melihat ke samping, atau lebih tepatnya ke sebuah jam digital yang menunjukkan pukul ( 08.44 ).


Kedua matanya langsung membelalak lebar dan pria itu segera melompat dari kasurnya yang empuk. Pria berusia 25 tahun itu memakai piyama polos berwarna coklat terang. Pilihan yang cukup unik bagi pria dewasa dengan ukuran kamar tidur yang luasnya bahkan tidak sampai 5 meter persegi. Namun pilihan itu bukan karena ia suka dengan piyama polos berwarna coklat terang, tapi karena ia tidak punya pilihan selain piyama polos berwarna coklat terang. 


Postur tubuh tinggi sekitar 180 cm. Tidak terlalu kurus, tapi tidak terlalu gemuk pula. Kenaikan atau penurunan massa lemak yang drastis bukan hal yang mudah baginya. Bukan karena ia memilih untuk hidup sehat, tapi karena ia tidak punya pilihan selain untuk hidup sehat. 


Pria itu adalah Lysander Adhiwira. Rambutnya berwarna hitam legam dengan ujung rambutnya yang berwarna pirang agak gelap. Ukuran rambut yang ia miliki cukup pendek, layaknya model rambut anak sekolahan. Bukan karena ia menyukainya, tapi karena hanya model rambut seperti itulah yang tersedia. 


Ia segera mengganti pakaiannya dengan baju kaos polos lengan pendek dan juga celana training polos berwarna hitam. 


Pria itu berkaca selama beberapa saat, mata birunya yang seterang langit siang tanpa awan memperhatikan pantulan dirinya di cermin, kulitnya yang berwarna coklat terang mengindikasikan dirinya yang sudah lama tidak terpapar sinar matahari secara langsung. 


Bahkan dengan semua ciri fisik yang di atas standar ketampanan rata-rata, tampilan tetap agak lusuh karena baru saja bangun tidur. 


Ia lalu merapikan rambutnya dengan cepat sebelum akhirnya bergegas untuk keluar kamar dengan perasaan gelisah bercampur panik. 


Di saat ia berada di depan pintu yang terbuat dari aluminium, pintu tersebut secara otomatis bergeser ke samping. Mendeteksi keberadaan orang yang akan melewatinya, pintu geser itu bereaksi dengan cepat. 


Langkah Lysander harus terhenti ketika ia menatap seseorang yang sudah menunggu di balik pintu. Berdiri tegak dengan kedua tangan menyilang.


Fisiknya sangat mirip dengan Lysander. Pria tinggi dengan mata biru, rambut hitam yang memiliki warna pirang di ujung rambutnya, serta warna kulit coklat terang, meski tidak seterang warna kulit Lysander. Hal yang membedakan antara pria itu dan Lysander adalah pria yang berdiri di hadapannya memiliki badan yang besar serta tampilan yang menunjukkan pria 35 tahun pada umumnya. 


Sorot matanya begitu tajam, seolah menatap langsung ke dalam jiwa Lysander. Kedua alisnya sedikit menurun, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak senang dengan keadaan saat itu. 


Lysander yang ketakutan kini mengambil satu langkah mundur sambil menutup kedua matanya diiringi kedua tangan yang mencoba untuk menutupi wajahnya. 


“Tidak, ayah! Aku tidak bermaksud untuk bangun lambat! Jam alarm ku tidak berbunyi, itu bukan salahku!” kata Lysander dengan cepat, saking cepatnya, ia hampir menggigit lidahnya sendiri. 


Lihat selengkapnya