[ 20 Tahun sebelum Lysander bertemu Tanisha ]
Bidak plastik digeser di atas permainan papan ular tangga. Sedikit lagi tiba di garis akhir sebelum bidak itu berhenti tepat 2 kotak sebelum kotak terakhir. Parahnya, kotak tersebut berisi gambar kepala ular yang artinya bidak tersebut harus turun hingga ke ujung ekor gambar ular.
Setidaknya setengah perjalanan dari garis awal. Begitulah jarak yang harus dibayar dari menginjak kotak dengan gambar kepala ular.
“Tidak!!!!” teriak bocah lelaki yang tampak jelas masih berusia 5 tahun.
Bocah itu tidak lain adalah Lysander dan orang yang bermain bersamanya adalah kakak perempuannya yang berusia 10 tahun, Dina.
Lysander memukul-mukul meja sambil berusaha menahan tangisannya, sementara itu, Dina malah tertawa sambil mengejek adik laki-lakinya tersebut.
“Kau curang!” Lysander langsung berdiri dan berlari keluar rumah.
Rumah tempat tinggal mereka cukup besar dan mewah dengan halaman yang luas. Bahkan ada halaman di samping rumah yang bisa langsung diakses lewat ruang keluarga, tempat Lysander dan Dina bermain permainan papan ular tangga.
Halaman samping rumah memiliki lebar sekitar 5 meter, ukuran yang cukup untuk sebuah pohon tumbuh tinggi dan pohon itulah yang menjadi pelarian dari bocah berusia 5 tahun yang tidak tahu harus menyalurkan kemana perasaan kesalnya.
Lysander yang marah dengan air mata mengalir membasahi pipi, memutuskan untuk memanjat pohon yang tingginya sekitar 3 meter dari permukaan tanah.
“Sander! Apa yang kau lakukan? Apa kau takut ular sampai harus memanjat pohon? Hihihi,” ejek Dina yang berada di bawah pohon sambil mendongak ke atas, melihat Lysander yang duduk di salah satu dahan pohon dengan posisi membelakangi Dina.
“Aku benci kau!” gerutu Lysander yang malah membuat Dina semakin terkekeh.
“Terserah kalau begitu,” ujar Dina yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Hanya beberapa langkah saja, Dina terhenti ketika melihat ayahnya yang tiba-tiba masuk melalui pintu depan.
Lucian memakai pakaiannya yang khas, kaos polos dengan celana panjang lengkap dengan jaket lab berwarna putih.
Sebuah pemandangan yang cukup asing mengingat waktu baru menunjukkan pukul 12.00 siang. Biasanya ayahnya akan pulang setelah matahari terbenam.
“Ayah, kenapa pulang cepat?” tanya gadis kecil yang penasaran tersebut.
“Ada sedikit keperluan, di mana ibu?” balas Lucian dengan cepat seolah ia sedang terburu-buru karena dikejar sesuatu.
“Ibu masih di ruang kerja dan –”
“Terima kasih, sayang,” potong Lucian yang langsung bergegas menuju ruang kerja yang berada di lantai dua.
Langkahnya begitu cepat melewati kamar Lysander, kamar Dina dan bahkan kamar tidurnya.