Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #11

10. Awal Kehidupan Baru.

Kedua mata membuka perlahan dan ia mendapati dirinya yang tertidur dalam posisi duduk di meja yang dipenuhi coretan kertas. 


Rasa lelahnya sudah berkurang begitu pula tubuhnya yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. 


Ketika Lucian mengangkat wajahnya, ia baru sadar bahwa ada selimut yang menutupi punggungnya dan kini terjatuh ke lantai saat ia meluruskan postur tubuhnya. 


Ia kembali teringat dengan perkataannya sendiri tentang tanggung jawab untuk memperbaiki tragedi penyebaran virus, tapi malah dikoreksi oleh Ananda dengan kalimatnya sendiri. 


Lucian tersenyum tipis lalu menghela napas. “Apa yang kupikirkan? Membuat istriku sendiri khawatir seperti itu.”


Pria itu berdiri lalu berjalan keluar kamar dengan pakaian yang sama dengan pakaian yang ia kenakan saat mengungsi dalam bungker yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. 


Setibanya ia di ruang tengah, Lucian melihat istrinya yang duduk di meja makan yang berada di tengah ruangan. 


Ananda melihat Lucian datang dan langsung memasang senyum tipis sambil memandang ke arah suaminya tersebut. 


Lucian malah terkekeh lalu duduk di samping Ananda setelah menghembuskan napas lega. “Maaf membuatmu khawatir.”


Senyuman Ananda semakin melebar disusul dengan dirinya yang menyandarkan tubuhnya ke bahu Lucian. “Kau selalu seperti itu. Kau selalu ingin memikul semua beban sampai lupa dengan kesehatanmu sendiri.”


Lucian tersenyum lalu merangkul bahu Ananda. “Kau juga sama, setiap ada masalah, kau selalu berpikir untuk menyelesaikannya sendiri, dan ketika gagal, kau malah menangis.”


Pria itu mengharapkan respons positif dari istrinya tapi yang ia dapat adalah wajah cemberut dengan sorot mata penuh kebencian. 


“Jadi, kau pikir aku hanya beban yang cuman tahu menangis?” tanya Ananda yang menatap Lucian langsung ke dalam jiwanya. 


“Eh?! Tidak, bukan anu… Maksudku…”


Sebelum Lucian menyelesaikan kalimatnya, Ananda langsung mencubit tangan pria itu hingga Lucian merintih kesakitan.


“Aduh... Sakit, hentikan,” kata Lucian yang mencoba menghindari serangan Ananda.

 

“Ayah! Lihat! Aku menggambar pelangi!” tegas Lysander yang tiba-tiba datang sambil membawa secarik kertas yang telah diisi dengan gambar langit dan juga gambar pelangi. 


Lucian kini berfokus pada anak laki-lakinya yang wajahnya dipenuhi noda krayon beraneka ragam warna. 


“Ini gambar yang bagus, tapi kau harus mandi setelah selesai menggambar,” kata Lucian yang tidak direspons baik oleh Lysander. 


“Tapi aku tidak mau mandi!” Lysander menghentakkan kakinya. “Aku tidak mau mandi!”


Lucian sedikit menaikkan nada suaranya. “Lysander, tubuh yang kotor harus dibersihkan, kau harus mandi.”


“Tidak! Tidak mau! Tidak mau!” teriak Lysander sambil melompat-lompat dan mengayunkan tangannya di udara. 


Lucian bersiap untuk memaksa Lysander mandi tapi Ananda segera melakukan intervensi, wanita itu berjongkok di hadapan bocah lelaki itu lalu mengelus kepala Lysander. 


Lihat selengkapnya