Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #12

11. Misi Lucian.

Beberapa perkakas sederhana dimasukkan ke dalam ransel kecil, lengkap dengan buku catatan sederhana yang berisi panduan tentang cara memperbaiki panel surya yang rusak ataupun jaringan kabel listrik lainnya karena tentu saja... 


...Lucian tidak mengetahui banyak hal seputar kelistrikan dan juga mesin. 


Pria itu memandangi ransel tersebut selama beberapa saat sebelum menarik napas panjang lalu bergegas menuju ruang kecil tanpa pintu dengan lantai dan atap yang merupakan pintu baja. 


Deretan pipa besi datar yang membentuk formasi tangga vertikal kini ditatap oleh Lucian. 


Di saat tangan pria itu memegang salah satu pipa besi yang menjadi tangga vertikal, Ananda menyentuh pundak Lucian. 


“Sayang, apa kau yakin ingin pergi keluar? Bukankah lebih baik jika aku yang pergi?” tanya Ananda dengan nada suara agak lemah. 


“Kita sudah membicarakan ini, sayang, aku tidak bisa mengambil resiko itu. Kita tidak tahu ada apa saja di luar saja,” kata Lucian sambil memegang tangan Ananda yang menyentuh pundaknya. 


“T... Tapi... Tapi... Bukankah itu berarti 2 orang lebih baik ketimbang sendirian? Jika kita tidak tahu –”


Pelukan dari Lucian langsung membungkam Ananda. Pria itu memeluk istrinya begitu erat hingga membuat Ananda sedikit terkejut.


Lucian semakin mengeratkan pelukannya, “Tolong... Aku tidak mau kehilanganmu.”


Hati Ananda langsung goyah dan air matanya sedikit menetes keluar. Kedua tangannya yang semula terangkat di udara kini memeluk punggung Lucian dengan erat. 


“Kau curang,” gumam Ananda yang akhirnya pasrah dengan keputusan Lucian. 


Setelah berpelukan, Lucian segera memanjat ke atas hingga ia bisa menyentuh langit-langit yang juga merupakan pintu ke dunia luar. Di tembok yang berada dekat dengan pintu baja tersebut, terdapat sebuah keyboard angka sederhana yang dimulai dari angka 0 hingga angka 9.


Lucian menekan kombinasi angka pada keyboard tersebut dan pria itu langsung mendengar suara pintu baja yang terbuka perlahan. 


Cahaya matahari langsung menyambut Lucian dan memaksa pria itu memicingkan matanya selama beberapa saat sebelum ia mulai terbiasa dengan intensitas cahaya tersebut. 


Ia memanjat keluar dan mendapati dirinya di tengah-tengah hutan dengan jarak antar pepohonan yang agak berjauhan. Jumlah pepohonan yang cukup untuk bersembunyi tapi tidak cukup banyak untuk menutup cahaya matahari layaknya di hutan amazon. 


Di depan dan di samping hanyalah pepohonan sementara di belakang adalah gundukan tanah yang membentuk bukit setinggi 3 meter dari permukaan tanah. 


Ia tidak berlama-lama di pintu masuk atau mungkin lebih tepatnya, lubang masuk. 

Lihat selengkapnya