Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #13

12. 2 Ayah.

Cahaya lampu berwarna merah yang berkedip tiap beberapa saat kini berganti menjadi cahaya lampu biasa. Tidak ada lagi peringatan dan sebuah pesan baru saja masuk di tablet milik Ananda, sebuah pesan sederhana yang mengatakan bahwa sumber energi panel surya telah stabil. 


Ananda menghela nafas lega dan merasakan seluruh beban di pundaknya runtuh. Wanita itu terduduk di lantai sambil menghela nafas lega sekali lagi. 


Wanita mungkin merasa semuanya terkendali, akan tetapi ketika ia melihat Lysander meringkuk dan gemetaran sementara Dina memeluk adik laki-lakinya tersebut walau sebenarnya Dina sendiri agak ketakutan. 


Ananda langsung mendekati kedua anaknya tersebut sambil memasang senyum yang ramah dengan posisi berjongkok di hadapan kedua bocah tersebut. 


“Tenang saja, lihat, lampu nya kembali seperti semula, semuanya baik-baik saja,” kata Ananda dengan ekspresi wajah ceria. 


Dina dan Lysander melihat ke sekitar dan benar saja, warna cahaya lampu tidak lagi berwarna merah. 


“Dimana ayah?” tanya Lysander yang berusaha menahan tangisannya. 


Ananda terdiam sejenak. “Itu... Ayah sedang merapikan kabelnya.”


“Merapikan kabel?” lanjut Lysander bertanya. 


“Ya, benar, setelah memperbaiki listrik, harus ada kabel yang dirapikan, jadi, ayah masih bekerja di luar,” jawab Ananda. 

“Ayah akan pulang?”


Ananda langsung mengusap kepala Lysander, “Tentu saja. Bagaimana kalau kita bermain sambil menunggu ayah selesai bekerja?”


Ekspresi sedih bercampur takut di wajah bocah lelaki itu seketika lenyap, tergantikan oleh ekspresi ceria dan penuh harap.


---------------------------------------------------


Di bawah bayang-bayang pepohonan, seorang pria menodongkan pistolnya ke arah pria lain. 


Namun meski situasi yang harusnya terasa mencekam, kedua pria itu tampak begitu tenang sambil menatap mata masing-masing dengan penuh keseriusan.

 

“Arnold, kau tahu aku tidak bisa, bahkan jika kau bebas dari kontaminasi, persediaan kami hanya cukup untuk –”


“Kau tahu apa yang kualami sampai detik ini?!” potong Arnold yang menaikkan nada suaranya. “Kami sudah kelaparan dan belum makan selama hampir dua hari dan kami hanya berlari dan berlari!”


“Arnold –”


“Kau tahu bagaimana rasanya dikejar oleh makhluk yang sangat ingin membunuhmu?! Hah?!”


Lucian terdiam, bukan karena apa yang dikatakan Arnold, tapi karena penyebab Arnold harus mengatakan hal itu. 


Di hadapan Lucian adalah seseorang yang putus asa, negosiasi bukanlah pilihan karena satu-satunya pilihan yang ada adalah membiarkan Arnold dan keluarganya berlindung dalam bunker miliknya. 


Yang tentu saja mustahil... 


Lucian berjalan ke arah Arnold. “Arnold, dengarkan aku –”


“Jangan bergerak!” teriak Arnold yang kini memegang pistol dengan kedua tangannya. 


Lihat selengkapnya