Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #14

13. Lucian Adhiwira.

Napasnya memburu, pandangannya sedikit bergoyang, kepalanya terasa pusing dan kedua lututnya menjadi lemas.


Ia mengangkat wajahnya yang semula agak tertunduk dan menatap seorang bocah yang berada di depannya. Bocah lelaki berusia 6 tahun yang gemetar ketakutan dan celana yang basah akibat kencing. 


Lucian memandangi wanita yang baru saja ia bunuh lalu kembali menatap si bocah. “Apa yang sudah kulakukan?”


Ia masih memegang pistol yang telah menewaskan sepasang suami istri. 


Awalnya ia juga ingin mengakhiri hidup bocah lelaki tersebut, akan tetapi Lucian sempat melihat wajah Lysander pada bocah itu. 


Membunuh Arnold adalah dorongan situasi, membunuh istrinya adalah antisipasi, tapi membunuh anaknya?

 

Moralnya memaksa untuk memberi toleransi. 


Lucian berdiri dan mencoba mengatur nafasnya sebelum menatap bocah lelaki itu. “Pergilah... Jangan pernah datang kembali kemari.”


Sang bocah terlalu takut untuk merespons. Tentu saja, melihat kedua orang tua mati di depan mata akan membuat bocah mana pun trauma. 


Lucian tidak lagi tertarik untuk membunuh bocah itu dan malah berjalan menuju mayat Arnold yang terbaring di atas tanah yang agak lembab. 


Pria itu berlutut dengan lutut kanannya sambil memandangi Arnold yang sudah tidak bernyawa. 


“Aku minta maaf... Tapi keluargaku adalah,” kata Lucian sebelum berdiri.


*Jrash!


Sesuatu menusuk pinggang Lucian hingga membuat pria itu tersentak selama beberapa saat. 


Ketika ia berbalik, ia mendapati sebuah pisau yang menancap masuk dan menusuk ususnya. 


Pisau itu dipegang oleh kedua tangan kecil yang gemetaran. Ketika Lucian menyadari bahwa bocah lelaki itu melakukan serangan, ia terlambat mengantisipasi bahwa di wajah mungil yang ditutupi debu dan tanah itu, ada banyak emosi yang bercampur bersama aliran air mata yang deras. 


Ketakutan, kebingungan, kemarahan, kesedihan…


Dengan emosi yang tak bisa terbendung, bocah lelaki itu berteriak keras sambil menyeret pisau yang ia pegang dengan kedua tangannya, merobek perut dan pinggang Lucian yang menyebabkan tumpahnya darah dan sedikit organ dalam yang mencuat keluar. 


“Kau! Dasar!” Lucian terjatuh sambil memegang luka yang terbuka lebar. 


Adrenalin memaksa tubuh Lucian bereaksi cepat dan kini tangan kanannya menodongkan moncong pistol ke arah sang bocah lelaki. 


Lihat selengkapnya