Keluar(ga)

UBI Master
Chapter #15

14. Menunggu Kepulangan Sang Ayah.

32 jam sejak Lucian pergi keluar.


Aliran listrik sudah tidak lagi bermasalah, semua sistem bungker berjalan dengan baik-baik saja, tapi tidak dengan penghuninya.


Ananda duduk di meja ruang tengah dengan posisi menghadap langsung ke ruang kecil yang berfungsi sebagai jalur masuk dan keluar bunker tersebut. 


Rasa gelisah memaksa kaki Ananda mengentak-entakkan tumit kakinya dengan ritme yang agak cepat. 


Wanita itu menggenggam kedua tangannya yang agak gemetaran dan agak pucat. 


Matanya hanya terfokus pada ruangan yang ada di hadapannya, menunggu dan terus menunggu kedatangan sang suami. 

Kantung matanya bisa terlihat jelas, bukti bahwa ia belum tidur sama sekali sejak Lucian pergi. 


Di momen penungguan yang menegangkan itu, Ananda tiba-tiba mendengar suara isak tangis Lysander. 


Bocah lelaki itu berdiri di samping Dina sambil menggenggam erat tangan kakak perempuannya itu. 


Air mata Lysander mengalir deras. “Ayah... Hiks... Tidak kembali... Ayah...”


Dina langsung mengelus pundak Lysander dengan lembut. “Tidak, itu tidak benar. Ayah pasti akan kembali.” Gadis itu langsung memandang ke arah Ananda dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya itu. “Benar, kan, ibu?”


Ananda langsung memaksa tersenyum dan berpura-pura ceria agar bisa menenangkan kedua anaknya itu. “Kita tunggu sehari lagi, ya. Besok, ayah pasti pulang.”


Lysander berusaha menghentikan tangisannya. “Be... Benarkah?”


Ananda langsung mendekati Lysander. “Itu benar, bagaimana kalau kita tidur saja dulu, sambil menunggu kepulangan ayah. Ayo.”


Wanita itu menuntun Lysander kembali ke kamar. Mengganti baju bocah lelaki itu menjadi piyama lalu duduk di samping kasur Lysander sambil menceritakan sebuah cerita dongeng hingga bocah tersebut tertidur. 


Setelah selesai menidurkan Lysander, wanita itu berjalan ke luar kamar dan langsung disambut oleh Dina yang berdiri di samping pintu dengan pandangan tertunduk.


“Ibu... Apa ayah –”


Sebelum Dina sempat menyelesaikan kalimatnya, Ananda langsung berjongkok di hadapan gadis tersebut sambil memegang kedua pundak Dina dengan erat. 


Ananda memasang senyum lebar. “Tenang saja, sayang. Semua akan baik-baik saja. Ayah pasti akan pulang besok. Ibu janji semua akan baik-baik saja.”


Di balik senyuman yang ramah itu, entah kenapa Dina bisa merasakan bahwa ibunya sedang berbohong. Gadis itu tidak paham sepenuhnya tapi ia merasa ada yang aneh dengan ekspresi ramah dari ibunya saat ini. 

Lihat selengkapnya