Duduk bertiga di meja bundar yang berada di tengah ruangan, hologram Lucian tertawa canggung memandangi Dina yang bahkan tidak ingin menatap sosok yang menyerupai ayahnya tersebut.
Gadis itu terus terlihat cemberut dan hanya mendengus ketika harus memberikan respons terhadap hologram Lucian.
“Ehehehe... Kurasa dia membenciku,” kata hologram Lucian.
“Sayang,” Ananda menyentuh kedua bahu anaknya dengan lembut, “Aku tahu ini terlihat buruk, tapi ia tetap program yang mengambil karakteristik ayahmu, Lucian, dia –”
“Tidak!” tegas Dina yang langsung berdiri. “Aku tidak suka! Pada akhirnya dia bukan ayahku! Dia hanya kebohongan!”
“Dina...”
“Tidak! Aku tidak menerimanya!”
Dina berjalan menjauh sementara Ananda ikut berdiri dan hendak untuk mengejar Dina.
*Gubrak!
Dina menoleh ke belakang dan mendapati ibunya yang terbaring di atas lantai. Bukan hanya itu, hologram Lucian tampak duduk di samping Ananda, terlihat begitu gugup dan khawatir.
Dina panik seketika dan segera menghampiri sang ibunda sambil mengayunkan tangannya seolah ingin mengusir hologram Lucian. “Pergi kau! Jangan dekat-dekat!”
“Ibu! Kau tidak apa?!” teriak Dina.
Ananda masih bernapas, tapi wajahnya begitu pucat, terlalu pucat. Melihat hal itu, keringat dingin langsung mengucur deras membasahi wajah mungilnya.
“Kenapa kau teriak, Kak Dina?” tanya Lysander yang berjalan masuk ke dalam kekacauan. Masih memakai piyama bergambar pahlawan super, rambut berantakan, satu mata masih tertutup, kepala masih agak terantuk dan kadang ia menguap. “Kak Dina, Kau bangun pagi –”