Tidak ada Cahaya matahari yang masuk ke dalam bungker dan semua jenis pencahayaan hanya mengandalkan lampu. Meski begitu, mereka memiliki jam analog dan juga jam digital yang berfungsi dengan baik selama pasokan listrik tetap ada.
Waktu yang dikatakan oleh jam yang ada setidaknya mengindikasikan waktu saat ini adalah beberapa menit menuju jam 9, sudah lewat jauh dari waktu sarapan yang normal. Bahkan perut Lysander mulai bergemuruh untuk meminta diisi. Akan tetapi, Lysander sendiri memiliki tugas penting yang membuat dirinya mengabaikan rasa lapar tersebut.
Tumpukan kertas dibawa oleh Lysander, tapi bukan tumpukan kertas biasa, itu adalah tumpukan mahakarya bocah lelaki itu. Gambar demi gambar dengan beragam pemandangan dan juga beragam hewan. Namun ada satu gambar yang sangat dibanggakan Lysander, gambar yang berada di tumpukan paling atas, gambar yang berisi ayah, ibu, kakak perempuannya dan juga Lysander. Sosok keempat orang yang digambarkan dalam bentuk sederhana dan warna cerah. Gambar keempat orang itu tampak tersenyum sambil berpegangan tangan dengan pemandangan alam yang dipenuhi bunga serta langit biru cerah.
Ketika Lysander berjalan menuju kamar ibunya dengan tumpukan mahakarya yang ia bawa, ia mendapati Dina yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa nampan yang berisi segelas jus sayur dan telur rebus yang terpotong kecil-kecil Bagai kerikil.
“Hi, Sander, kau sudah selesai menggambar?” tanya Dina dengan kedua ujung bibir agak naik meskipun ia masih bisa merasakan otot rahangnya yang agak kram berkat hal yang ia lakukan sebelumnya.
Kepala Lysander agak menunduk, begitu pula suaranya yang agak lemah. “Aku harap ibu bisa sembuh karena gambar-gambar ini.”
“Tentu saja ibu pasti sembuh, ayo,” ajak Dina yang berjalan memimpin adik laki-lakinya menuju kamar tempat Ananda terbaring.
Kondisi Ananda masih kelihatan pucat yang sama sekali tidak menurunkan tingkat kekhawatiran keduanya.
“Bagaimana ini?!” air mata Lysander perlahan menetes diikuti gerak tubuhnya yang begitu tidak sabaran.
“Tenanglah, Sander. Ambil selotip di ruang baca dan tempelkan gambar-gambar itu di tembok. Ibu pasti akan semangat ketika melihatnya,” kata Dina merespons dengan cepat.
Dengan penuh optimisme, Lysander mengangguk cepat lalu meletakkan tumpukan gambarnya di atas lantai sebelum berlari cepat ke ruang baca.
“Itu bisa mengotori tembok,” hologram Lucian tiba-tiba menampakkan wujudnya tepat setelah Lysander keluar kamar.
Dina meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja yang berada di dekat kasur lalu menunjuk ke arah hologram yang ia tidak ingin akui sebagai wujud ayahnya. “Dengar! Kalau kau tidak mau membantu, diam! Sander khawatir dan apa yang bisa kau lakukan tanpa menyentuhnya?! Hah?!”
Sang hologram terdiam selama beberapa saat karena ia tahu apa yang dikatakan Dina adalah kebenaran, ia pun memutuskan untuk tidak memberikan komentar tambahan.
Dina mendengus agresif, “Seperti yang kuduga, diamlah, biarkan aku bekerja.”
Di saat Dina ingin menyuapi Ananda dengan jus sayur yang berada di dalam gelas, hologram Lucian langsung menginterupsi sekali lagi.
“Kalau kau melakukannya seperti itu, kau akan mencekik Ananda,” ujar hologram Lucian yang membuat Dina tersentak lalu terdiam di tempat.
“Men... Mencekik?!” Dina terbata-bata diikuti keringat dingin yang mulai muncul di wajahnya.
Sang hologram berjalan mendekati kasur dengan tingkat keseriusan yang sama ketika ia menyarankan Dina soal sayuran dan rempah yang harus diambil. “Kalau kau menyuapinya dalam keadaan terbaring seperti itu, makanan yang harusnya masuk ke lambung akan berakhir masuk ke paru-paru dan kau akan –”
“Iya, aku paham! Diamlah!” tegas Dina yang kini meletakkan kembali gelas jus beserta sendoknya. “Aku harus mengubah postur tubuh ini agar tidak mengganggu sistem pernapasannya.”
Dina naik ke atas kasur dan menyeret tubuh bagian atas Ananda agar bisa bersandar ke tembok.
Gadis itu langsung memandang cepat ke arah sang hologram. “Puas?!”
Hologram Lucian hanya bisa menghela napas berat. “Baiklah, cukup bagus.”