“BOM ENERGI?!” Teriak Dina membelalakkan kedua matanya ke arah kumpulan bola besi bersinar itu.
Ananda masih tersenyum penuh rasa bangga. “Yap, dan benda ini belum dipatenkan, jika orang-orang dari pihak militer tahu, mereka pasti akan membeli ini semua.”
“Kapan ibu membuat semua ini?” lanjut Dina bertanya yang berhasil menghapus senyum di wajah Ananda perlahan layaknya cat tembok yang luntur.
Ananda membuka mulutnya tapi jawaban yang akan keluar terasa begitu berat dan mencekik leher. Ia menarik napas panjang sebelum menahannya beberapa detik lalu menghembuskan udara bersama beban di dadanya.
“Sejak hologram Lucian menggantikan Lucian. Aku membuatnya dengan harapan agar bisa menjadi senjata untuk pertahanan diri, tapi aku tidak menyangka akan menggunakannya secepat ini,” Kata Ananda yang berhasil membuat Dina murung.
Gadis itu tertunduk. “Maaf... Ibu...”
Ananda kembali menarik napas panjang lalu memasang senyum lebar. Ia langsung memegang kedua pundak Dina. “Jangan khawatir! Monster apapun yang ada di luar sana, pasti bisa ibu kalahkan. Ibu akan kembali, ibu janji.”
Senyum yang dilihat Dina terasa berbeda. Gadis itu tidak merasakan kebohongan di balik wajah ibunya yang begitu optimis. Ibunya mungkin berhasil.
Tidak!
Ibunya pasti berhasil.
Dengan satu fakta itu, Dina kini bisa tersenyum lega, bukan lagi senyuman canggung yang terpaksa dibuat untuk membuat orang lain tenang, melainkan senyuman murni karena bahagia bahwa ia tidak akan kehilangan sang ibu.
Ananda bersiap-siap dan memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas ransel. Tidak banyak hal yang diisi mengingat masalahnya pasti tidak sulit, dan jika masalah itu lebih sulit dari yang ia bayangkan, ia bisa segera kembali karena tas ransel yang ia bawa begitu ringan. Ia bahkan mengganti pakaiannya dengan baju kaos serta celana training yang fleksibel agar lebih leluasa bergerak.
Setelah semua persiapan dilakukan, Dina menemani ibunya berjalan menuju tangga yang mengarah ke permukaan. Keduanya tampak gugup karena harus mengulang hal yang sama dengan insiden sebulan yang lalu, tapi bedanya, hari ini, keduanya optimis bahwa semuanya akan berakhir positif.
Ananda menarik napas dalam-dalam lalu menahannya selama beberapa saat sambil menutup mata, mengingat semua hal yang terjadi selama sebulan belakangan. Rasa sakit ketika menyadari Lucian tidak akan kembali, rasa frustasi saat membuat hologram Lucian, rasa lelah saat Dina tidak ingin mengakui hologram Lucian, bahkan kenangan positif di saat Dina akhirnya menerima ilusi yang ia buat.
Sebelum wanita itu membuka matanya, ia membayangkan wajah Lucian yang tersenyum tipis ke arahnya dengan satu kalimat sederhana.