Jasadnya tidak bisa dikenali lagi. Tidak ada daging, kulit, maupun rambut yang bisa diidentifikasi. Akan tetapi, kerangka yang terbaring di tanah mengenakan jaket lab mengatakan hal yang sebaliknya. Jaket lab putih yang kini sangat kotor dan kumuh dengan banyak bercak tanah, jaket lab putih khas yang hampir selalu dikenakan Lucian.
Ananda menggelengkan kepalanya perlahan sambil berjalan mendekat. “Mustahil, ini pasti bohong.”
Wanita itu langsung berlutut di permukaan tanah berumput yang agak lembab tanpa mengalihkan pandangannya dari kerangka berjaket lab tersebut.
Kedua tangannya yang gemetaran dijulurkan ke depan. “Lu… Lucian?”
Di saat kedua tangannya menggenggam tengkorak yang ditempeli tanah, hatinya seolah berteriak bahwa itu adalah Lucian. Pikirannya masih belum menerima, tapi jiwanya paham dengan apa yang terjadi.
Ananda langsung memeluk tengkorak itu sambil berteriak keras, saking kerasnya hingga membuat hewan sekitar berlari ketakutan.
Tangisan pecah, membiarkan air mata mengalir membasahi pipinya bagaikan air terjun di tengah badai yang berkecamuk.
“LUCIAN!!!” Teriak Ananda sambil terus memeluk tengkorak tersebut dengan erat.
Tidak ada yang bisa disaksikan selain emosi mentah dari perpaduan kesedihan dan keputusasaan. Langit seolah terbelah karena saking seringnya ia berteriak.
Tangisan dan teriakan terus terdengar sampai tenggorokannya sendiri sakit. Teriakan telah hilang tapi tangisnya tidak berhenti sama sekali, bahkan sampai 1 jam setelah ia kehilangan suaranya.
Semua rasa sakit terus keluar dengan deras hingga hanya menyisakan Ananda yang terisak dan kedua matanya yang sembab.
Di saat kesadarannya mulai kembali ke kenyataan, ia mulai memperhatikan area sekitarnya. Ia mendapati satu lagi kerangka dan tengkorak manusia yang tergeletak di atas tanah tidak jauh dari tempat Ananda menemukan kerangka Lucian.
Namun di saat ia ingin memeriksa kerangka tengkorak itu, Ananda melihat sesuatu yang mengkilap di atas tanah. Benda itu adalah pistol.
Wanita itu melihat pistol tersebut, melirik ke arah tengkorak Lucian yang ia peluk lalu menatap kerangka tengkorak manusia yang tak memiliki pakaian tersisa.
Tidak butuh waktu lama sebelum Ananda paham bahwa Lucian mati saat berusaha untuk melindungi bunker. Mengetahui hal itu, ia mendekap tengkorak Lucian lebih erat.
“Dasar bodoh, harusnya kau keluar membawa senjata,” gumam Ananda yang membenamkan wajahnya ke tengkorak Lucian.
Di tengah kesedihan itu, bayangan besar tiba-tiba menutupi semuanya dan membuat Ananda berbalik secara refleks.
*BHAM!