Warna Cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu di dalam bunker kembali ke warna semula. Bukan lagi warna merah menyala yang memberi kesan mencekam. Suara sirine peringatan juga menghilang. Keadaan bunker kembali tenang seperti biasanya. Sayangnya yang berada di dalam bunker saat itu hanyalah Lysander dan juga Dina.
Dina berhasil meyakinkan Lysander untuk pergi tidur sementara Dina sendiri masih menunggu di meja makan yang berada di ruang tengah. Menunggu kedatangan sang ibu yang tidak kunjung pulang.
Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam, sejam berganti menjadi berjam-jam. Tanpa Dina sadari, ia telah menunggu hingga pukul 21.00.
Keresahan Dina semakin bertambah yang bisa terlihat dari tumitnya yang naik dan turun begitu cepat, menghentakkan salah satu tumit kakinya sementara area penglihatannya hanya terfokus pada ruangan kecil yang menjadi tangga untuk naik ke dunia luar.
Waktu terus berlalu hingga tubuh kecil Dina tidak lagi sanggup untuk terus terjaga. Ia terbaring di meja makan dengan posisi tubuh yang masih menghadap ke arah ruangan tangga.
--------------------------------------------------------------------------------
[ 00.00 ]
Dalam keadaan tertidur lelap, sebuah suara memanggil nama Dina. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu mengangkat wajahnya dan mendapati ibunya yang berdiri di hadapannya.
Dina tidak bisa menahan rasa gembiranya dan langsung melompat memeluk ibunya tersebut.
Sangat disayangkan Dina malah melompat menembus sosok ibunya sendiri. Senyum lebarnya menghilang dan begitu pula keceriaan di wajahnya yang ikut memudar.
Tertunduk dalam keadaan terduduk di lantai, semua Cahaya harapan yang terpancar di matanya baru saja menguap menuju kenyataan yang pahit.
Itu bukanlah ibunya, melainkan hologram Ananda Adhiwira.