Bab I
Libur
Tiap gowesan terasa amat ringan dibandingkan beratnya ujian sekolah hari ini. Di bawah langit jingga, sepedaku meluncur bebas di atas turunan aspal yang mulus. Rambutku beterbangan teracak-acak angin sore yang menyapu gerah. Ingin rasanya kunikmati suasana ini lebih lama sebelum pulang ke rumah yang penuh carut-marut.
Kulewati lagi lahan hijau kosong yang selalu jadi tempat menyendiri andalanku itu. Berangan-angan bisa singgah dulu sebentar di sana, berbaring santai menikmati suasana senja yang tenang dan adem, merayakan berakhirnya masa ujian kelulusan SMP yang telah merepotkanku seminggu belakangan. Namun jika pulang terlambat, bisa-bisa malam ini aku tak diajak makan malam lagi.
Sedikit kecewa, tak henti-hentinya ku menoleh ke sana sambil terus mengayuh. Samar-samar, mataku menangkap sesosok siluet yang tengah berdiri kaku di sana seorang diri, menghadapku, seperti sedang memantauku dari kejauhan. Kusipitkan mata, berusaha mengidentifikasi. Figur itu menyerupai seorang … bukan, dua orang wanita dewasa yang entah bagaimana, terlihat seperti dua buah kepala yang menyatu pada satu badan.
◆◆◆
Tok! Tok! Tok! “… Rin?! Makan!” panggil tante dari luar kamarku.
“Oke, Tante!”
Tentu aku masih kepikiran dengan apa yang kusaksikan tadi sore. Apakah hanya halusinasi karena kelelahan? Tapi yang kulihat tadi rasanya terlalu jelas dan nyata untuk dianggap sebatas salah lihat. Aku jadi teringat rumor-rumor tentang keberadaan sosok mengerikan yang konon menghuni sebuah gudang terbengkalai di area lahan itu. Kukira hanya cerita karangan anak-anak kecil yang suka bermain di sekitar sana. Haruskah kuselidiki sendiri ke sana besok? Mumpung hari libur pertama.
Keluarlah aku dari kamar, mencari sesuatu untuk membungkam perutku yang sudah merengek sejak tadi sore. Melihat meja makan yang penuh dengan piring-piring kotor, tampaknya keluarga om sudah selesai makan duluan tanpa aku. Semuanya sudah bubar dari sana, kecuali om sendiri yang masih duduk di salah satu kursi meja makan untuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Mataku memindai sekeliling. Di ruang tengah, tante dan Niko duduk bersebelahan di sofa depan TV. Niko, anak om yang kedua, terlihat fokus bermain video gim melalui konsol yang dihubungkan ke TV, sementara tante tampak sedang asyik sendiri dengan HP-nya. Nala, anak om yang pertama, tidak kelihatan. Mungkin sudah masuk ke kamarnya untuk tidur atau belajar.
Aku pun mulai mengambil sendiri makanan yang masih tersaji di meja makan. Hanya tersisa nasi dan tumis kangkung, padahal di piring-piring kotor ada banyak sisa-sisa tulang ikan.
"Om, aku gak kebagian ikan?" tanyaku.
"… Habis. Salah sendiri tadi lama banget keluarnya."
"Oh … yaudah deh, maaf Om."
Aku pun duduk di kursi seberangnya untuk makan. Namun belum lama kududuk, beliau langsung menutup laptop lalu beranjak pergi meninggalkanku untuk masuk ke kamarnya. Tak ingin terlalu kupikirkan, aku pun mulai melahap makan malamku sendirian di ruang makan yang sepi dengan iluminasi lampu remang-remang.
"Oh iya, Rin??! Udah makan cuciin semua piring kotornya, ya?!" teriak tante dari ruang tengah.
"Hhiap, Handhee!" jawabku dengan mulut penuh.
◆◆◆
Sudah larut malam sekarang. Aku masih mencuci piring sendirian di dapur karena ternyata masih ada lebih banyak lagi piring-piring dan wadah kotor yang sudah menumpuk tinggi di wastafel. Semua lampu di ruangan lain sudah dimatikan kecuali di sini. Kontras dengan tengah malam yang sunyi, pikiranku sedang berisik merenungkan sesuatu. Bukan tentang bungkus ikan pindang isi empat yang kutemukan di tempat sampah, namun sialnya, pikiranku masih terhantui oleh penampakan aneh yang kulihat tadi sore— maksudnya kemarin sore. “Wanita Kepala Dua”. Aku jadi merinding sendiri karena rupa visualnya otomatis tergambarkan secara mengerikan dalam pikiranku.
Seketika terjadi sesuatu yang membuatku langsung terbujur kaku. Saat ini juga, ujung mataku mendeteksi ada sesuatu yang sedang bergerak-gerak pelan tepat di belakangku. Muncul dari luar dapur yang gelap gulita, bayangannya di lantai menyerupai sesosok makhluk humanoid yang mengerikan. Tanganku berhenti menggosok piring seiring tengkukku mulai basah oleh keringat dingin. Aku hanya diam mematung, tak punya cukup nyali untuk bergerak sedikit pun dari tempatku. Entah sudah berapa lama aku terjebak dalam situasi mencekam ini. Ingin segera lepas, kuberanikan diri untuk mengintip ke belakang melalui refleksi dari sendok logam yang sedang kugenggam.
“… Nala? Belum tidur?” ucapku lega sembari menengok ke belakang. Fyuuhhh … untung tadi belum sampai jantungan.
Sepupu perempuan seumuranku itu hanya menatapku malas dengan mata merah berair dan wajah jutek khas-nya tanpa menjawab apa-apa. Ya sudah, lah … aku juga memang tidak mengharapkan apa-apa. Dengan setelan tidur dan rambut yang tak tertata, dia membungkuk di sampingku untuk mengisi tumbler minumnya dari dispenser hingga penuh. Sepupuku ini setahuku memang sudah terbiasa bergadang untuk belajar, meski kali ini aneh karena masa ujian baru saja selesai. Sulit untuk memahami orang yang terlalu ambisius secara akademis seperti dirinya.
Dilatari oleh suara kocoran air dispenser, detik demi detik jadi terlewati dengan canggung dalam dapur sempit yang kini diisi oleh dua orang. Setidaknya lamunanku tentang penampakan kemarin sore jadi teralihkan untuk sementara. Entah salah dengar atau tidak, namun samar-samar aku dapat mendengar sesengguk-sengguk pelan dari arah-nya yang tersamarkan oleh suara dispenser. Apa mungkin …?
“Nala … kamu habis nangis?” tanyaku polos.
Ia menoleh, kembali hanya menatapku dengan wajah jutek-nya yang dibuat-buat, namun kali ini aku bisa mencerna hal yang lain. Berbeda dengan Nala yang biasanya kukenal super dingin dan arogan, terutama kepadaku, kali ini ia terlihat lelah dan rapuh. Kami bertatapan dengan canggung selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia dikejutkan oleh tumbler-nya yang telah terisi terlampau penuh hingga airnya meluap-luap keluar. Gerak-geriknya jadi terlihat panik akibat lantai dapur yang kini jadi basah tergenangi air dispenser.
“Udah gapapa, sama aku aja,” tenangku.
Ia hanya terdiam melamun di sampingku, seperti sedang kebingungan mencoba untuk mencerna kecerobohannya sendiri, diselangi oleh suara srat-srot yang terus ia keluarkan setiap kali menghirup ingusnya ke dalam. Aku bisa melihat wajahnya yang sedang menatap balik padaku dengan ketus melalui pantulan dari tembok ubin. Apa ia kesal karena pakaiannya jadi sedikit basah? Kan bukan salahku? Ia pun mengalihkan pandangannya ke bawah lalu menutup tumbler-nya rapat-rapat.
“Kamu cepet tidur, Rin!” ujarnya singkat sembari beranjak pergi dari dapur.
◆◆◆
Di bawah hangat mentari pagi, di samping sepedaku yang terparkir, aku berbaring di atas rumput yang nyaman bagai kasur. Dibantali oleh tas selempangku yang berisikan barang-barang yang berkaitan dengan hobiku, di antaranya ada buku gambar, sekotak krayon, dan buku bacaan. Aku sudah di sini dari tadi, dari awal hari, bahkan sebelum matahari muncul. Sebelum om dan tante sempat untuk menyuruh-nyuruhku seharian di hari libur. Bersyukur bisa lolos untuk dapat menjalani hari dengan bebas melakukan apa yang ingin kulakukan. Meski ada konsekuensinya, aku tak mau peduli sekarang, yang lain urusan nanti.
Samar-samar aku dapat mendengar suara anak-anak kecil yang sedang bermain di sisi lahan lain yang tak jauh dari sini. Meski sedikit mengganggu, aku jadi merasa ada yang menemani untuk mulai mengecek ke area sekitar gudang terbengkalai sesuai dengan rencanaku kemarin. Bangkitlah aku lalu mulai berjalan ke arah sana. Menyusuri lahan rumput yang luas, melewati sekumpulan anak-anak kecil yang sedang bermain dengan bola karet, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah turunan lahan rumput yang menjorok curam secara diagonal ke bawah.
Di bawah sana, di samping sebuah pohon besar, berdiri sebuah bangunan tua berbentuk kubus sempurna yang telah lama terbengkalai. Bangunan bertembok beton yang tidak di-cat itu konon bekas gudang penyimpanan produk-produk pangan yang sudah lama ditinggalkan. Dari sanalah awal mula rumor-rumor tentang makhluk mengerikan itu bermunculan sampai beredar hingga ke telingaku.
Meski tak pernah dengar tentang deskripsi wujudnya seperti apa, mungkinkah sosoknya adalah wanita berkepala dua yang kulihat kemarin? Segala keambiguan ini terus-menerus mengganjal dalam pikiranku. Karena itulah aku ke sini, untuk mencari kejelasan agar tidak terhantui seumur hidup.
Namun nyatanya … mungkin sudah lebih dari satu menit aku hanya berdiri mematung di atas sini, memandang ke bawah dengan penuh ragu. Seluruh tubuhku mendadak terasa kaku, seolah menahanku agar tidak turun ke sana. Instingku juga merasakan ada sesuatu yang ganjil, padahal sejauh mataku memandang sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan di bawah sana. Apa semua ini hanya perasaanku saja? Sulit percaya kalau aku sepengecut ini.
Seketika itu juga, sebuah bola karet berwarna merah menggelinding begitu saja melewati celah di antara kedua kakiku, menggelinding turun dengan cepat ke bawah hingga berhenti tepat di depan gudang. Sekumpulan anak-anak kecil yang semula berlarian mengejar bola itu serentak berhenti. Kini semuanya kompak terdiam mematung di sekelilingku. Tampaknya, sama sepertiku, bocah-bocah bau matahari ini juga entah kenapa tak ada satu pun yang berani untuk turun ke bawah.
“Ehm … Kak, boleh tolong ambilin …?” tanya salah satu dari mereka sambil menoleh padaku.
“Kenapa aku? Ambil sendiri sana,” tolakku.
“Takut, Kak. Di gudang itu ada monster ….”
“….”
Apa katanya …? Monster …? Aku hanya menatap anak-anak itu dengan penuh ragu.
“Iya, Kak. Beneran!" ujar anak yang lain.
Monster, ya …? Apa jangan-jangan … yang kulihat kemarin sore ….
“Monsternya kayak gimana emang?” tanyaku.
“Besar!”
“Banyak bulunya, Kak!”
“Kulitnya putih pucet!”
“Tangannya serem! Kayak capit kepiting!”
“Pendek, kecil, kayak tuyul!”
“Bisa manjat-manjat tembok!”
“Larinya cepet!”
“…?”
Konyol. Anak-anak ini terus berlomba menyebutkan deskripsi mereka masing-masing yang bahkan saling kontradiksi satu sama lain. Di antara mereka juga tak ada satu pun yang menyebutkan ciri-ciri yang mirip dengan sosok kepala dua yang telah kusaksikan sendiri kemarin sore. Apa jangan-jangan … memang ada lebih dari satu monster? Atau bahkan banyak? Banjir informasi ini malah membuat semuanya menjadi semakin rumit ketimbang memberi kejelasan. Mau tak mau aku harus segera mengambil tindakan yang mungkin bisa jadi solusi. Aku pun mulai dengan membuka ritsleting tas selempangku.
“Yaudah, aku ambilin bola kalian. Tapi sambil nunggu di sini, aku mau kalian gambarin monster yang kalian ngaku-ngaku lihat itu di sini. Masing-masing satu lembar, oke?” pintaku sambil menyodorkan buku gambar dan kotak krayonku pada mereka.
“Oke, Kak!” jawab mereka serentak.
Bagus! Mereka semua langsung antusias untuk menggambarkan versi “monster”-nya masing-masing di buku gambarku. Sesuai janji, aku pun memberanikan diri untuk pergi mengambilkan bola mereka ke lahan bawah. Tentu ini bukanlah alasan utamaku supaya mau repot-repot turun ke bawah, melainkan aku sendiri pun juga benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam gudang terbengkalai itu.
Dengan berhati-hati, aku setengah berlari menuruni turunan lahan rumput yang curam. Namun, sepatuku murahanku yang tidak anti-licin, sesuai prediksiku, membuatku tergelincir. Memaksaku meluncur dengan cepat dalam posisi telentang hingga berhenti di lahan bawah. Bagian belakang pakaianku jadi kotor … punggungku pun jadi panas karena gesekan. Yah … untungnya aku sama sekali tidak terluka dan bisa langsung bangkit kembali.
Akhirnya setelah sekian lama aku kembali lagi ke bawah sini. Terakhir kali aku ke sini adalah beberapa bulan lalu saat masih musim hujan. Waktu itu beberapa kali aku turun ke sini untuk berteduh di teras gudang agar tak basah kuyup. Namun semenjak beredarnya rumor-rumor tentang adanya sosok mengerikan yang menghuni gudang, aku jadi tak pernah lagi turun ke bawah sini.
Bukan karena percaya dengan hal-hal semacam itu, namun aku hanya waspada jika cerita-cerita itu memang sengaja dibuat untuk menutup-nutupi suatu aktivitas kejahatan atau semacamnya yang dilakukan di dalam gudang. Tentu aku tak mau terlibat. Meski kali ini kasusnya sudah berbeda karena aku telah menyaksikan sendiri sosok yang mungkin mereka maksudkan dan ingin mencari tahu sendiri penjelasannya.
Atmosfer di bawah sini entah kenapa jadi terasa sangat berbeda sekarang. Jauh lebih sunyi tanpa ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tanpa ada kicauan burung atau pun serangga yang beterbangan. Warna langit di bawah sini juga terlihat lebih kelam dibandingkan saat di atas tadi, bagaikan ku baru saja tembus ke dimensi yang lain. Dari sini, gudang di depanku jadi tampak lebih mengintimidasi dengan terlihat semakin besar dan menjulang. Setinggi itu, di dalamnya pasti berisikan setidaknya dua hingga tiga tingkat lantai.
Tak mau basa-basi lagi, kupaksakan diri untuk terus melangkah maju mendekati bangunan tua itu. Secara absurd, aku terus-menerus merasakan pancaran aura penolakan yang semakin lama semakin kuat dari arah yang kutuju, seolah ada suatu energi yang mengisyaratkanku untuk pergi menjauh dari sana. Tak kuacuhkan perasaan itu, fokus untuk memindai keberadaan bola merah yang kucari. Namun anehnya, bola yang tadi jelas-jelas kulihat berhenti tepat di depan gudang kini sama sekali tidak kelihatan.
Kini aku bahkan telah berdiri tepat di titik di mana bola tadi terakhir kali terlihat dari lahan atas, namun si bulat merah itu masih saja nihil sama sekali dari pandangan. Tak mau ambil pusing, aku pun langsung bergerak untuk mencarinya dengan teliti ke setiap sudut eksterior gudang tanpa terkecuali, termasuk mengecek ke setiap sisi-sisi bangunannya.
Tiga dari empat sisi gudang telah kujelajahi tanpa hasil. Dan kini, aku bisa mendengar suara sebuah bola yang sedang dipantul-pantulkan ke tanah dari arah sisi bangunan yang terakhir. Dibanding senang, aku malah lebih was-was dengan identitas sosok misterius yang kini sedang berada sangat dekat denganku. Bisa jadi siapa saja, termasuk “monster-monster” yang disebutkan anak-anak kecil tadi. Aku bahkan tak yakin apakah aman untuk mengintip ke balik tembok di depanku.
Namun demi penyelidikan, kuberanikan diri untuk tetap mengendap-endap ke arah sana, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun, lalu mulai mengintip perlahan dari balik tembok. Sekilas, aku bisa melihat seseorang dengan postur kira-kira sepantaran denganku sedang memantul-mantulkan bola merah yang kucari-cari berulang kali ke tanah, sementara kepalanya tampak fokus untuk mengintip ke dalam gudang melalui sebuah jendela.
Tubuhnya berdiri menghalangi pancaran sinar matahari bak gerhana, menghasilkan siluet yang menyerupai seorang gadis kurus dengan rambut yang dikucir ke belakang. Mengamatinya lebih dalam, aku mulai bisa mengenali warna sweter-nya yang belang-belang hitam-putih, serta warna rambutnya yang jadi cokelat terang di bawah sinar matahari. Mengamatinya lebih dalam lagi, aku mulai bisa mengenali kalau wajahnya … adalah wajah yang tak asing bagiku.
Rena. Satu kelas denganku di sekolah. Gadis yang sangat populer di kalangan guru-guru dan siswa-siswi antar kelas, bahkan antar sekolah. Gadis yang juga selalu eksis berpartisipasi dalam setiap organisasi siswa dan acara sekolah. Sangat berbanding terbalik denganku yang bahkan bukan siapa-siapa di kelas. Sungguh pemandangan yang langka melihatnya sendirian di tempat antah-berantah seperti ini. Pasti ada sesuatu.
Mataku masih belum berpaling untuk terus mengamati wajah indahnya dalam-dalam, sekadar memastikan kalau gadis di depanku ini memanglah Rena yang kukenal. Kuperhatikan hidung kecilnya yang sedikit melengkung ke atas, bibirnya yang tetap terlihat ramah meski tidak sedang tersenyum, serta mata cokelatnya yang tampak berbinar dengan indah, menatap balik dengan tajam padaku …. Oh tidak.
“Eh, ada yang ngintip!”
Celaka … aku ketahuan.
“Ayo sini keluar, Arin! Aku tau kamu di situ!”
Lho …? Dia hafal namaku? Benar-benar di luar dugaan mengingat aku bukanlah siapa-siapa di sekolah. Kami sama sekali tidak dekat, bahkan seingatku, ini pertama kalinya Rena berbicara secara langsung padaku.
“Kamu tau namaku, Ren?” tanyaku seiringku menunjukkan diri dengan pasrah.
“Ya iya, lah! Kita kan sekelas …. Bahkan nama panjang kamu pun aku hafal, kok! Arin Akbar … kan? Eh, Arin … Akmal …?” tebaknya. Semua jawabannya salah total. Rupanya dia memang tak begitu mengenalku. “Kamu ngapain di sini, Rin? Jangan bilang cuma buat ngintipin aku doang …?” godanya.
“Nggak, kok … aku cuma mau ngambil bola itu. Tadi jatuh ngegelinding ke sini,” jelasku sambil menunjuk pada bola merah yang sedang berada dalam pelukannya.
“Oh, ini?? Ini bola punya kamu, Rin?”
“Ya … bukan, sih …”
“Lah …? Yaudah kalau bukan.” Rena langsung lanjut memantul-mantulkan bolanya.
“Eh, maksudnya … aku perlu bola itu buat anak-anak di atas—”
“Di atas? Di atas mana? Di atas langit? Serem banget ada anak-anak di atas langit,” ejeknya, mempermainkan gelagapanku sambil menengok-nengok ke atas.
“Eh, bukan gitu … maksudnya ….”
“Hmm …? Santai aja, Rin. Pelan-pelan aja ngomongnya.”
“Aku, ehm … ke sini buat bola itu … punya anak-anak kecil yang di atas sana,” jelasku terbata-bata sambil menunjuk ke arah asalku datang ke sini.
“Oh … kamu sengaja ke sini buat ambilin bola punya anak-anak yang lagi main di lahan atas …? Baik banget kamu, Rin. Nih, tangkap!” Rena mengoper bola karet merahnya padaku.
“Makasih, Ren.”
“Saranku sih, Rin … jangan mau kalau disuruh-suruh gitu … apalagi sama anak kecil.”
“Haha, nggak kok. Mereka nggak berani turun ke sini karena katanya di dalem gudang ini ada monster … ada-ada aja, ya?” jelasku, sedikit membela diri.