Keluarga Sang Naga

Adeline Iskandar
Chapter #1

Malam Kedatangan Hujan

Malam itu sudah larut, tetapi Alisia kecil belum juga tertidur lelap. Anak perempuan itu berbaring menyamping di kasur bulu angsa yang lebar, tubuhnya yang kecil terselimuti oleh kain tebal lembut seperti sutra. Rambut pirang yang bergelombang tergurai acak-acakan di kasur itu. Kelopak matanya terbuka, menunjukkan warna retina biru yang melihat ke arah jendela luar kamarnya.

Gadis usia lima tahun itu, memandangi salju yang turun perlahan di langit malam. Sinar bulan sabit membuat pemandangan luar semakin indah. Salju putih seolah bercahaya di antara kegelapan.

Belum lama, Alisia mendengar suara yang ia tunggu-tunggu.

Derap kaki kuda dan putaran roda delman terdengar dari luar. Alisia terduduk di ranjangnya. Ia diam sebentar, memastikan bahwa pendengarannya benar. Ketika suara ringkikan kuda terdengar lagi, sebuah senyum lebar merekah di wajahnya.

"Papa!" bisiknya.

Alisia segera turun dari kasurnya. Kakinya menginjak bulu karpet lembut di bawah kasurnya. Di luar selimut itu, Alisia suhu dingin menggigit kulitnya. Ia segera mengenakan jaket bulu dan sendal rumah hangat sebelum keluar dari kamarnya dengan bersemangat. Mulutnya sudah setengah terbuka untuk memanggil Sang Ayah, tapi...

"Apa ini?" suara ibunya tertahan.

"Anak kita." jawab ayahnya dengan suara yang sama.

Dahi Alisia berkerut. Kapan terakhir kali dia mendengar ibunya menaikkan suara di depan ayah? Langkah kakinya yang bersemangat berubah mengendap-ngendap. Dari lorong kamarnya di lantai dua, Alisia bisa melihat kedua orang tuanya sedang berargumen di ruang makan. Di tangan ibunya, ada sebuah buntelan kain yang tertutup bayang-bayang gelap.

"Apa? Sejak kapan aku melahirkan?!"

"Lihat dulu! Gak ada anak di bawah sepuluh tahun yang bisa mengalirkan energi sihir! Tapi... anak ini bisa sejak bayi. Dia jenius."

"Bukan itu intinya!" Ibunya semakin frustasi.

"Jadiii... karena memang kita belum punya anak laki-laki. Aku pikir tidak ada salahnya mengadopsi anak ini." Lanjut Ayah, menghiraukan ibu,

Ibu menghela nafas panjang. "Tidak. Ada. Salahnya?!" tanyanya penuh penekanan. "Kamu pikir mengadopsi anak itu seperti memelihara anjing? Dari mana asal usulnya? Siapa orang tuanya? Jangan bilang kamu gak tau!"

"Ya, kita! Kita orang tuanya!" Suara Ayah mulai meninggi. "Aku sudah selesai mengurus semua surat-suratnya! Keputusanku ini sudah bulat! Awas aja kalau kau ungkit lagi!"

Suara Ayah sepertinya membangunkan bayi itu. Suara tangis keras memenuhi seisi gedung. Seolah mendukung pernyataan Ayah, suara hujan deras terdengar dari luar rumah.

"Tapi!"

"Memangnya kamu tega mengembalikannya lagi ke panti asuhan?"

Ibu menggigit bibirnya. Suara tangisan bayi itu semakin keras. Pada akhirnya, ibu hanya bisa menimang-nimang bayi itu.

"Waaa, hush, hush, sayang.... Tenang, tenang. Gak ada apa-apa.."

"Begitu, dong." Kata Ayah puas.

Setelah suasana mencair, Alisia baru berani keluar dari persembunyiannya. "Ayah sudah pulang!"

"Alisia, putri kesayanganku!" panggil Ayah dengan tangan terbuka lebar.

Alisa buru-buru turun tangga, lalu berlari ke dalam pelukan ayahnya. "Aku rindu banget!"

"Papa juga!"

"Alisa! Harusnya kamu udah tidur!" Keluh ibu yang masih sibuk dengan baui itu.

"Sebentar aja, Ma!! Papa udah seminggu gak pulang. Iya, gapapa kan, Pa?"

Daria menghela nafas panjang. Ia masih sibuk menenangkan bayi yang menangis. Lepas dari pelukan ayahnya, Alisia mendatangi ibunya. Ia berjinjit untuk bisa melihat wajah bayi itu.

Pipi bayi mungil itu bulat menggemaskan. Wajahnya itu merah padam karena menangis keras. Air matanya berjatuhan deras. Alisia langsung ingin mencubit pipinya.

"Aduh, lucunya... Siapa dia, ibu?"

"Dia itu adik laki-laki barumu, Alisia." Ayah menjawab meskipun pertanyaan itu ditujukan pada ibu. "Namanya Hujan."

Dahinya berkerut. "Namanya aneh. Kenapa Ayah menamakannya seperti itu?"

Ayah tidak menjawab pertanyaan itu. "Kamu baik-baik padanya ya."

***

35 tahun kemudian.

Hujan berdiri sambil berkacak pinggang di depan pagar sebuah rumah mewah di tengah ibu kota kerajaan. Tanpa sadar, jarinya terus mengetuk pinggangnya. Di bawah sinar bulan lembut, dia hanya memandangi rumah itu tanpa berani membunyikan lonceng depan.

Rasanya aneh pulang ke rumah yang tidak pernah ia tinggali.

Tiba-tiba, punggungnya ditepuk dari belakang. Rudi, adik bungsu Hujan, sudah berada di belakangnya. Ia tersenyum lebar. Sebelah alisnya menaik, menekankan pancaran kejahilan di kedua matanya. Meskipun usia pria itu sudah hampir menginjak kepala tiga, sifat jenaka Rudy yang mengesalkan masih terasa. Di sebelahnya, berdiri Melissa, istri Rudy yang sedang hamil tua.

"Kenapa? Gak berani masuk ke rumah setelah sepuluh tahun gak pulang?" tanya Rudi tanpa basa-basi.

"Apa? Gak mungkin selama itu. Aku pulang saat Kak Alisia lahiran."

Lihat selengkapnya