22 tahun yang lalu di Desa Richfall.
Semua orang di kelas menatap Hujan tidak suka. Mereka tidak mengatakan apa pun, hanya isak tangis Leo yang terdengar di seisi kelas. Anak laki-laki berbadan besar itu terbaring tak berdaya di lantai dekat kaki Hujan. Tangan kanannya memegangi bahu kirinya yang baru saja dibanting.
“Mama… mama…” Leo menangis seperti anak kecil meskipun lima menit yang lalu ia baru saja mengancam akan menghajar Hujan.
Tiba-tiba, pintu kelas dibuka. Bapak Kepala Sekolah, Anjali, masuk dengan dahi yang berkerut dalam. Ia adalah seorang pria paruh baya yang rambutnya sudah setengah botak. Anjali mengenakan kemeja putih rapi dan suspender warna cokelat muda yang senada dengan celana panjangnya. Begitu melihat kondisi kelas, ekspresinya berubah mengerikan.
“HUJAN!” Teriaknya marah. “Kamu ngapain?!”
“Dia mulai duluan!” kata Hujan membela diri, walaupun tidak ada gunanya. Semua orang sudah menganggapnya sebagai pembuat onar.
Meilan, anak perempuan yang satu geng dengan Leo, mengangkat tangannya. “Hujan membanting Leo tanpa ampun, Pak. Padahal Leo cuma mau bangunin aja.”
“Dia menjambak rambutku!” Hujan membela diri.
“Kamu ke ruanganku sekarang, Hujan!” Perintah Pak Anjali tanpa melihat atau menanggapi pembelaan Hujan. Pak Anjali berlutut di sebelah Leo untuk mengecek kondisi bahunya. “Ya ampun, Leo. Apa kamu tidak apa-apa?”
“Aduh, sakit, Pak!” Ringis Leo.
Hujan terdiam mematung karena bingung harus berbuat apa. Apa apa Hujan memang melukainya separah itu? Hujan mendekat untuk melihat kondisinya dengan lebih baik, tapi Leo malah berteriak ketakutan.
“Kamu nunggu apa? Cepat ke ruanganku sana!” Perintah Pak Anjali lagi.
Hujan melangkah mundur, lalu keluar dari kelas tanpa banyak berkata. Kebanyakan teman-teman sekelas memberikan pandangan bermusuhan. Hanya beberapa yang tampak bersimpati dan kasihan. Beberapa menganggap kejadian tadi sebagai hiburan. Mereka terkekeh-kekeh sambil bergosip ria.
Sesampainya di ruangan kepala sekolah, seluruh tubuh Hujan bergetar. Ia berdiri di dalam ruangan itu dengan tangan terkepal. Wajahnya terasa panas karena rasa malu bercampur marah yang membara di dada. Baru lima menit lalu, Hujan tidur dengan tenang. Kenapa Leo selalu mengganggunya? Dia yang mulai, ini bukan salahnya.
Menghela nafas panjang, Hujan memperhatikan ruang kepala sekolah. Ruangan itu terasa sempit dan mencekik. Apalagi, di dinding belakang, berdiri satu lemari besar berisi dokumen yang menumpuk entah sejak kapan. Di tengah ruangan, ada sebuah meja kerja dengan nama dan jabatan Pak Anjali di atasnya. Sementara itu, bagian pinggir penuh dengan bangku-bangku kayu untuk duduk dan menunggu.
Satu-satunya yang menarik perhatian adalah lukisan seorang pria di dinding persis di depannya. Daripada aslinya, pria dalam lukisan itu terlihat lebih muda dan gagah. Punggungnya lebar dan perutnya tidak terlalu buncit. Rambutnya berwarna pirang dilukiskan dalam gaya klimis yang rapi. Wajahnya tegas dan ekspresinya tanpa senyum. Pria itu mengenakan sebuah pakaian mewah berupa kemeja warna merah terang dengan celana panjang kain hitam legam. Dalam lukisan itu, ia juga memakai jubah cokelat yang terbuat dari kulit beruang. Pria itu adalah ayahnya, Marquis Edward, penguasa Desa Richfall dan sekitarnya. Sebagai seorang penguasa dan penyumbang terbesar untuk sekolah ini, Pak Anjali memasang lukisannya di sini.
“Ayah bakal marahin aku, kan?” Keluh Hujan pada lukisan itu, kesal. “Ayah gak bakal percaya pada kalau aku gak mulai duluan! Ayah gak pernah ngerti aku!”
Tentu saja, lukisan itu tidak menjawabnya. Ruang kepala sekolah tetap sunyi sepi. Di tengah-tengah kondisi seperti itu, mata Hujan terasa berat. Hujan mulai mengerjap-ngerjapkan mata karena pandangannya mulai buram. Hujan tidak begitu mengerti kenapa, tapi belakangan ini ia tidak sanggup menahan kantuk. Kakinya terhuyung-huyung ke belakang, lalu tubuhnya terjatuh di salah satu bangku ruangan itu.
***
“Astaganaga, Hujan!” Suara keras Pak Anjali membangunkan Hujan. “Beraninya kamu tidur padahal lagi kena masalah!”