Hujan sudah siap menerima setiap argumen, penolakan, bahkan kemarahan dari kedua orang tuanya. Dia sudah membayangkan momen ini selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah mendapatkan keberanian ataupun tekad yang cukup kuat untuk mengatakan yang sesungguhnya. Di dasar hatinya yang paling dalam, Hujan takut. Ia takut bila pengakuannya ini akan meledakkan konflik yang ia timbun seumur hidupnya.
Namun, siapa sangka, Marquis Edward dan istrinya malah tertawa mendengar pengakuan Hujan.
Setelah tawa itu usai, Edward berdiri dari kursinya sambil menepuk pundak Hujan. "Nak, kamu perlu memikirkan alasan yang lebih bagus dari itu kalau ingin menghindari perjodohan."
Kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, Marquis Edward berdiri dan berkata pada anak-anak dan cucu-cucunya. "Tanpa terasa, malam sudah larut. Kita juga sudah terlalu banyak minum-minum. Aku izin pamit untuk beristirahat dulu." Katanya sebelum pergi keluar dari ruang makan. Daria, mengikutinya dengan setia.
Sesuai dengan arahan dari kepala keluarga, Rudy dan Alex mulai memerintahkan para pelayan untuk mengangkat piring kotor di atas meja. Mereka juga mulai membujuk anak-anak untuk tidur di kamar masing-masing. Sementara itu, Hujan masih terduduk di kursinya tanpa bergerak. Ia memijat-mijat kepalanya yang terasa penat sambil menutup mata.
"Hujan." panggil sebuah suara yang sangat ia kenal.
Hujan membuka matanya dan menatap Alisia yang sudah bertukar tempat duduk dengan Rudy.
"Aku tau kamu kesal... tapi menurutku, Ayah sebenarnya memikirkan kebaikanmu, Hujan. Menikah itu bukan sesuatu yang buruk, kok."
Saat Hujan tidak menjawab, Alisia bertanya dengan lebih mendesak. "Atau... kamu sebenarnya sudah punya calon sendiri?"
Hujan langsung berdiri. "Aku harus kembali ke istana."
"Lho? Kenapa?" Alisia ikut berdiri juga. "Bukannya kamu udah ngambil cuti hari ini?"
"Kondisi Raja Massa sebenarnya lebih buruk dari yang dikabarkan. Aku khawatir waktunya tidak lama lagi." jawab Hujan sebelum pergi dari sana.
"Memangnya mengapa dia bisa sakit?"
***
Merapi duduk di kasurnya dengan cemas. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain, tapi ia tidak berdoa. Bagaimana ia bisa mendoakan kesehatan ayahnya jika ia sendiri sudah pasrah?
Tiba-tiba jendela kamarnya diketuk.
Merapi turun dari kasur, lalu membuka gorden jendela menuju balkon. Kamarnya berada di lantai tiga istana ini. Tidak ada seorang pun yang bisa menyelinap ke balkon kamarnya tanpa sepengetahuan penjaga, kecuali...
"Hujan?" tanya Merapi bingung.
Pria itu memberinya sebuah senyum terpaksa saat Merapi membukakan jendela kamar untuknya.
"Bukannya kamu pulang ke rumah hari ini?"
"Apa aku menganggumu?" Kekasihnya itu malah balik bertanya dengan nada sedih.
Merapi menggeleng. Ia membiarkan Hujan duduk di sofa kamarnya sebelum ikut duduk di sebelahnya. Ia sengaja bersandar ke pundak pria itu sambil menggandeng lengannya. "Aku butuh teman bicara."
"Apa kondisi ayahmu..."
"Kondisinya memburuk setiap detik." potong Merapi. Kengerian dan putus asa terpancar dari sana. "Kabar itu bisa datang kapan saja. Aku takut akan melewatkan waktu-waktu terakhirnya kalau sampai tertidur."
Hujan menggenggam lengan Merapi dengan sedikit lebih erat.
Merapi melepaskan dirinya dari pegangan Hujan. "Tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Bagi kita berdua, mengumpulkan seratus inti Raja Monster bukan masalah-"
"Kamu tau itu hanya akan memperpanjang penderitaan Raja Massa." jawab Hujan tenang. Mata birunya memandang tepat ke Merapi. Di sana terpancar pengertian dan empati. Kemudian, seperti menancapkan paku terakhir, Hujan menambahkan. "Keputusannya sudah bulat, Merapi."
Nada suara yang lembut itu seolah memecahkan sesuatu dalam hati Merapi. Badannya bergetar. Sementara pandangannya mulai buram oleh air mata. Dia belum siap.
Sesuatu yang hangat menyelimuti dirinya. Ia bisa merasakan tangan kasar Hujan mengusap air mata di pipinya. Sementara sebelah lagi mengusap kepalanya.