Blurb
Dulu, meja makan itu selalu ramai. Tawa Dani kecil, celoteh Maya, dan canda suami Arga yang suka menyelipkan potongan daging ke piring Rina diam-diam. Namun, itu dulu.
Pelan, retak itu datang. Arga sibuk lembur, Rina lelah mengurus rumah sendirian, dan komunikasi mereka tinggal satu-dua patah kata. Anak-anak mulai diam. Maya berhenti bercerita tentang sekolahnya.
Dani lebih sering mengunci kamar. Rina tahu ada yang salah, tapi dia terlalu lelah untuk memulai. Arga juga tahu, tapi gengsinya lebih besar dari rasa bersalah.
Puncaknya malam itu. Rina menemukan Arga merokok di teras jam dua dini hari padahal dia sudah berhenti tujuh tahun lalu. Di belakangnya, pintu kamar Maya tertutup rapat, dari dalam terdengar isak tertahan setelah tahu orangtuanya hampir bercerai. Dani, yang mendengar semuanya dari balik tembok, hanya menggigit bibir sampai hampir berdarah.
Mereka berpisah. Arga pergi ke luar kota, Rina kembali ke rumah ibunya, Maya dan Dani terpaksa tinggal dengan paman yang dingin. Hampir delapan tahun tak ada kabar. Keluarga itu lupa cara bahagia, bahkan lupa cara tersenyum tulus di Hari Raya.
Namun, takdir kadang jahat dulu, baru baik di akhir. Di sebuah rumah sakit di ruang tunggu yang sunyi Rina, Arga, Maya, dan Dani bertemu lagi. Bukan dengan pelukan, tapi dengan air mata yang tumpah tanpa suara. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya berbisik, "Ma, aku kangen."