Meja makan itu dulu selalu ramai.
Bukan karena mewah meja kayu jati tua pemberian Ibu Rina, dengan goresan-goresan pisau di permukaannya dan satu kaki yang sedikit miring sehingga setiap kali seseorang menyandarkan siku di ujung kanan, semua gelas akan bergetar pelan. Namun, itu tidak pernah masalah. Karena tawa selalu lebih keras daripada getaran gelas.
Rina mengingat itu semua dengan jelas. Terlalu jelas. Seperti luka yang meski sudah sembuh, tetap meninggalkan bekas yang akan perih jika disentuh di waktu yang salah.
"Bu, Dani nyolong ikan goreng saya!"
Maya saat itu masih delapan tahun, dengan dua gigi depan yang copot dan suara cempreng yang bisa menembus dinding menunjuk adik laki-lakinya dengan mata melotot. Dani baru lima tahun, pipinya gembul seperti baru digigit lebah, tersenyum licik dengan sepotong ikan di tangannya. Ia sudah mengunyah setengahnya sebelum Rina sempat menegur.
"Dani, kembalikan ikan kakak!"
Rina mengulurkan tangan, tapi Dani malah lari ke balik kursi ayahnya. Arga, yang baru pulang dari kantor dengan kemeja lengan panjang yang masih rapi, hanya tertawa. Ia menangkap Dani yang mencoba bersembunyi dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dani memekik senang, kakinya menendang-nendang udara.
"Lepasin, Yah! Geliii!"
Arga tidak melepaskan. Ia malah mengecup pipi Dani keras-keras, meninggalkan bekas lipstik samar yang entah dari mana mungkin dari ciuman selamat pagi Rina yang masih melekat di sudut bibirnya. Rina pura-pura marah, tapi sudut matanya mengerut lucu, tanda ia sedang menahan senyum.
Maya cemberut di kursinya, tangan bersedekap. "Yah, masa adik saya yang salah, saya yang dihukum? Lihat deh, ikannya tinggal setengah!"
"Kakak yang pelit," Dani berbisik dari balik bahu Arga, masih dengan suara cadel karena giginya belum lengkap.
"Kamu!"
Rina akhirnya ikut tertawa. Ia mengelus rambut Maya yang diikat dua kuncir kecil rambutnya tebal dan sulit diatur, tapi Maya bersikeras setiap hari ingin model Barbie. "Sudah, Nak. Ibu goreng lagi satu. Buat Maya spesial, dengan bentuk hati."
Maya masih cemberut, tapi matanya berbinar. "Bentuk hati beneran?"
"Beneran."
"Janji?"
"Janji."
Dan Rina berjalan ke dapur sambil tersenyum. Di belakangnya, ia mendengar Arga mulai menyanyikan lagu balita yang salah lirik—"Potong bebek angsa, makan di kompor"—dan Dani tertawa keras sambil membetulkan, "Bukan di kompor, Yah! Di rumah!"
Rina menghela napas. Napas bahagia.
Dulu, ia tidak tahu bahwa napas seperti itu akan begitu mahal harganya di kemudian hari.
Malam itu juga, setelah Dani tertidur dengan boneka beruang di pelukannya dan Maya selesai menulis buku harian bergambar bintang-bintang, Rina menemani Arga di teras. Lampu taman hanya satu, menyisakan temaram di wajah Arga yang mulai tampak letih.
"Kamu kenapa?" tanya Rina pelan. Meletakkan dua gelas teh jahe di meja kecil di antara mereka.
Arga menatap langit. Di perumahan mereka, bintang tidak terlalu terlihat, tapi bulan cukup jelas setengah, seperti sabit yang patah.
"Banyak kerjaan," jawabnya akhirnya. "Bos kasih proyek baru. Deadline mepet."
Rina mengamati garis rahang suaminya. Arga tampak menua lebih cepat dari usianya. Matanya yang dulu sering menyipit karena banyak tertawa, kini mengerut karena sering menatap layar komputer sampai larut.
"Apa tidak bisa minta tolong tim lain?"
Arga tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Tidak semudah itu, Din."
Rina diam. Ia ingin mengatakan banyak hal bahwa ia kangen, bahwa Dani bertanya "Ayah pulang kapan?" setiap malam, bahwa Maya mulai belajar membaca dan ingin membaca cerita untuk ayahnya sebelum tidur. Namun, ia tahu Arga sedang lelah. Dan orang yang lelah tidak butuh cerita; mereka butuh diam.
Jadi, Rina hanya memegang tangan Arga di atas meja. Arga membalik telapak tangannya, menggenggam balik. Tidak erat. Tidak lepas juga.
Itulah cinta mereka menggenggam di saat lengah.
Namun, genggaman itu mulai longgar.
Perlahan. Tanpa teriakan. Tanpa piring pecah atau pintu dibanting. Longgar seperti baju yang dipakai terlalu sering hingga benang-benangnya mulai renggang sendiri.
Proyek pertama selesai. Lalu, datang proyek kedua, ketiga, dan keempat.
Arga pulang semakin malam. Pukul delapan menjadi pukul sembilan. Lalu, pukul sepuluh. Lalu "Jangan tunggu, Din, aku makan di kantor."
Rina tidak pernah protes. Ia mengira itu bagian dari menjadi istri yang baik memahami, tidak rewel, tidak menuntut. Ia mengira diam adalah bentuk dukungan.
Ia tidak tahu bahwa diam juga bisa menjadi jarak.
"Yah, mana?" Dani bertanya suatu malam, matanya mengantuk tapi berusaha terbuka karena ayahnya janji akan mengajari cara membuat layang-layang.
Rina memeluk Dani. "Ayah masih kerja, Nak. Besok, ya."
"Tapi besok Ayah bilang kemarin," jawab Dani dengan polosnya.
Rina tidak bisa menjawab. Ia hanya menggigit bibir dan mengecup kening Dani.
Maya, yang sudah berusia sepuluh tahun, mulai mengamati lebih banyak dari yang seharusnya. Ia melihat bagaimana ibunya menatap ponsel setiap jam menunggu kabar. Ia melihat bagaimana piring ayahnya jarang tersentuh, lalu dibuang begitu saja karena makanan sudah dingin dan Rina tidak tega menghangatkannya lagi.
Ia melihat bagaimana senyum ibunya mulai berbeda. Lebih tipis. Lebih cepat hilang.
"Bu, kenapa Ayah jarang pulang?" tanya Maya suatu sore saat mereka melipat pakaian bersama.
Rina terdiam. Tangannya berhenti di atas kemeja Arga kemeja biru langit, favorit Arga untuk dipakai setiap hari Minggu.
"Karena Ayah sibuk, Sayang."
"Mbak Dinda di sekolah bilang, kalau ayahnya jarang pulang, artinya bapaknya punya wanita lain."
Rina hampir tersedak. Ia menatap Maya, gadis kecilnya yang sudah berbicara seperti orang dewasa. "Jangan dengar omongan tidak baik, Maya. Ayahmu pekerja keras. Dia sayang kita."
Maya tidak terlihat yakin, tapi ia tidak bertanya lagi.
Rina melanjutkan melipat. Kemeja Arga ia lipat rapi, lalu diletakkan di lemari yang sama seperti selalu. Namun kali ini, sebelum menutup pintu lemari, Rina mencium bau kemeja itu.
Aroma Arga. Aroma keringat dan sabun mandi merek tertentu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ganti.