KELUARGA YANG LUPA BAHAGIA

Mas Jamal Stars
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2 Lembur Yang Tak Berujung.

Bab 2: Lembur yang Tak Berujung

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore.

Rina berdiri di depan kompor, mengaduk sayur asem dengan gerakan lambat, hampir malas. Daun melinjo sudah layu tenggelam dalam kuah bening yang mulai mendidih. 

Kacang panjang dipotong serong, jagung manis disisir, dan tetelan sapi yang direbus sejak pukul dua. Resep ini dulu favorit Arga. Setiap kali Rina masak sayur asem, Arga akan mengambil dua porsi nasi dan berkata, "Nikmatnya, Din. Kayak masakan ibu."


Namun, itu dulu.


Sekarang, Rina tidak tahu lagi apa yang menjadi favorit Arga. Apakah ia masih suka sayur asem? Atau sekarang lebih suka masakan Padang? Atau mungkin ia lebih sering makan di kantin kantor yang menyajikan nasi kotak dengan lauk seadanya?


Rina mematikan kompor. Ia mencicipi kuahnya. Asam, sedikit pedas, gurih. Sama seperti yang dulu Arga suka. Namun, entah mengapa, hari ini rasanya hambar.


"Maya, tolong panggil Dani. Waktunya makan," Rina berteriak pelan dari dapur.


Tak lama, Dani turun dengan kaus Superman yang sudah kusam. Rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur, meski ia sudah bangun sejak dua jam lalu. 

Matanya masih sayu, menempel pada layar ponsel yang dipegang erat ponsel lama pemberian Arga saat Dani naik kelas tiga SD.


"Letakkan ponselnya, Dan. Makan dulu."


Dani menggerutu pelan, tapi menurut. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu duduk di kursi favoritnya kursi yang dulu dekat dengan posisi ayahnya. 


Sekarang kursi itu kosong. Hanya sendok dan garpu yang sudah disusun rapi oleh Rina. Tiga piring. Tiga gelas. Tiga orang.


Maya turun menyusul. Ia sudah berganti baju tidur meski baru jam enam piyama lusuh bergambar kelinci yang sudah mulai robek di ujung lengan. Wajahnya datar. Tidak cemberut, tidak marah. Hanya datar. Seperti orang yang sudah lelah sebelum perjuangan dimulai.


"Makan, Yuk," kata Rina sambil menyendok nasi ke piring Maya.


Maya mengambil sendok, menyuap nasi sedikit. Tidak banyak. Hanya beberapa butir, lalu berhenti.


"Kurang enak, Nak?" tanya Rina.


Maya menggeleng. "Enggak, Bu. Cuma ... enggak lapar."


Rina memandang putrinya. Maya empat belas tahun sekarang. Usia di mana anak perempuan biasanya mulai peduli dengan penampilan, mulai banyak gaya, mulai banyak cerita tentang teman-teman di sekolah. 


Namun, Maya tidak seperti itu. Maya semakin pendiam, semakin jarang bercerita, semakin banyak menghabiskan waktu di kamar dengan pintu tertutup.


Rina ingin bertanya. Namun, setiap kali ia memulai, Maya akan menjawab singkat: "Enggak kenapa-kenapa, Bu." Lalu, pergi.


Jadi, Rina hanya diam. Menyendok sayur asem ke piring Maya. Menambahkan jagung, karena Maya suka jagung.


"Bu," panggil Dani tiba-tiba.


"Ya, Nak?"


"Ayah pulang enggak malam ini?"


Pertanyaan sederhana. Namun, setiap kali terdengar, rasanya seperti ada yang menusuk ulu hati Rina. Pertanyaan itu sudah ia dengar hampir setiap malam selama setahun terakhir. Dan setiap kali, ia harus memilih kata-kata yang tidak akan membuat Dani kecewa, tapi juga tidak bisa berbohong.


"Ibu enggak tahu, Dan. Ayah belum kabar."

Dani menunduk. Tangannya memainkan nasi di piring, membentuk gunung kecil lalu meratakannya lagi. "Dani kangen."

Tiga kata sederhana, tapi Rina tidak punya jawaban untuk itu.


"Ayah sayang Dani," jawab Rina akhirnya. Sama seperti jawaban yang selalu ia berikan. "Ayah kerja buat Dani."


Dani mendongak. Matanya jernih masih terlalu jernih untuk anak seusianya. Belum terkontaminasi keraguan dan kekecewaan. "Tapi Ayah kerja terus. Kapan sayangnya?"


Maya yang sedari tiam diam, tiba-tiba meletakkan sendoknya. Bunyi keras. Rina menoleh.


"Makan, Ya," kata Rina pelan.


"Enggak mau," jawab Maya singkat. Lalu, ia berdiri, membawa piringnya ke dapur, menuangkan sisa nasi ke tempat sampah, lalu naik ke kamar tanpa mencuci piringnya sendiri sesuatu yang biasanya selalu ia lakukan.


Rina hanya bisa terdiam.


Dani masih di kursinya, menatap ayam goreng di piringnya tanpa nafsu makan. Rina menarik napas panjang. Lalu ponselnya bergetar. Pesan dari Arga.


"Aku makan di kantor, Din. Projek masih numpuk. Jangan tunggu."


Rina membaca pesan itu tiga kali. Lalu, mengetik balasan singkat: "Iya. Hati-hati."


Itu saja. Tidak ada "kangen". Tidak ada "pulang cepat". Tidak ada yang hangat. Hanya formalitas yang sudah menjadi kebiasaan.


Ia meletakkan ponsel di meja. Lalu, menyendok nasi ke mulutnya. Mengunyah perlahan. Sayur asem yang tadi pagi ia masak dengan hati-hati, dengan harapan Arga pulang dan menikmatinya seperti dulu, kini terasa pahit di lidah.


Dani masih bermain-main dengan nasinya. Rina menepuk pundaknya lembut. "Kalau enggak mau makan, simpan dulu di kulkas. Nanti malam kalau lapar, Ibu hangatkan."


Dani mengangguk. Tapi ia tidak segera beranjak. Ia masih duduk di kursi itu, menatap kursi kosong di hadapannya.


"Bu," katanya lagi.


"Ya."


"Apa Ayah masih sayang kita?"


Pertanyaan itu pertanyaan yang selama berbulan-bulan Rina hindari untuk diajukan pada dirinya sendiri, kini keluar dari mulut anak laki-lakinya yang baru menginjak kelas empat SD.


Rina ingin menjawab "iya". Namun, kata itu terasa hambar di mulutnya. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia sendiri mulai meragukannya. Bukan meragukan cinta Arga ia yakin Arga sayang, tapi meragukan apakah cinta itu masih cukup untuk membuat seseorang pulang.


"Ayah sayang Dani," jawab Rina lagi. Kali ini, suaranya sedikit bergetar.

Lihat selengkapnya