Bab 3: Maya Mendengar.
Maya tidak bisa tidur. Bukan karena ia tidak mengantuk. Matanya perih, kepalanya berat, dan seluruh tubuhnya terasa seperti ditimpa karung pasir sejak pulang sekolah.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ada suara-suara yang datang. Suara dari lantai bawah. Suara yang seharusnya tidak ia dengar. Suara yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Sudah seminggu terakhir ini, Maya selalu terjaga di malam hari. Bukan karena ia sengaja. Tubuhnya seperti memiliki alarm sendiri alarm yang berbunyi setiap kali ayah dan ibunya mulai berbicara dengan nada yang naik turun, tidak seperti biasanya.
Ia tidak ingin mendengar. Benar-benar tidak ingin. Namun, dinding kamarnya tipis. Dan rumah mereka, yang dulu terasa hangat dan aman, kini berubah menjadi ruang gema yang memperkuat setiap bisikan, setiap helaan napas panjang, setiap jeda yang terlalu sunyi sebelum kata-kata keluar.
Malam ini, Maya mendengar semuanya dari balik pintu kamarnya yang ia buka sedikit hanya celah satu sentimeter, cukup untuk telinganya menangkap suara dari ruang tamu di bawah.
"Aku bilang, Din, ini cuma sementara." Suara Ayah. Berat, letih, seperti orang yang mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali sampai kehilangan maknanya.
"Sudah enam bulan, Mas. Enam bulan kamu bilang 'sementara'." Suara Ibu. Tidak tinggi, tidak menjerit. Namun, ada sesuatu di dalamnya yang lebih menusuk dari teriakan sesuatu yang rapuh, seperti kaca yang siap pecah jika disentuh.
"Kamu pikir aku senang? Kamu pikir aku mau begadang terus?" Suara Ayah naik sedikit. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat Maya merapat ke dinding.
"Aku tidak bilang kamu senang, Mas. Aku cuma ... aku cuma kangen. Anak-anak kangen. Dani setiap malam nanya ayah pulang enggak. Maya, dia ..."
"Ibu tahu Maya kenapa?" Suara Ayah memotong. "Maya anak yang pintar. Dia ngerti ayahnya kerja buat keluarga."
"Pintar bukan berarti tidak butuh Ayah, Mas."
Keheningan panjang. Maya bisa mendengar detak jam dinding dari ruang tamu. detak, detak, detak, seperti palu kecil yang memukul dadanya.
Lalu, suara Ayah lagi, lebih pelan. "Aku lelah, Din. Aku benar-benar lelah."
"Kamu pikir aku tidak?" Ibu hampir berbisik. Namun, bisikan itu justru lebih menyakitkan dari teriakan. Karena di dalamnya ada luka yang tidak mau berteriak, tapi merembes pelan seperti air yang meresap ke dalam kayu lapuk.
"Kamu malam ini tidur di sini enggak?" tanya Ibu akhirnya. "Atau ..."
"Enggak, Din. Harus balik kantor. Ada laporan yang harus selesai."
"Jam sebelas malam, Mas?"
"Tenggatnya besok pagi."
"Iya." Suara Ibu pendek. Terlalu pendek. Maya bisa merasakan dari intonasinya ibunya sedang menahan sesuatu. Mungkin tangisan. Mungkin kemarahan. Mungkin sesuatu di antara keduanya yang tidak bisa diberi nama.
"Aku pergi dulu," suara Ayah. Lalu langkah kaki menuju pintu.
Maya mendengar pintu terbuka. Lalu tertutup. Mobil di garasi menyala.
Lalu sunyi yang berat. Sunyi yang seperti selimut basah menutupi seluruh rumah.
Maya masih di balik pintu. Ia tidak tahu kenapa kakinya tidak bergerak. Ia ingin kembali ke tempat tidur dan menutup selimut di atas kepalanya. Namun, tubuhnya membeku, seperti patung yang terlalu lama terkena angin malam.
Lalu, ia mendengar suara lain dari bawah. Suara isak.
Maya tidak pernah mendengar ibunya menangis seperti itu sebelumnya. Bukan tangisan histeris atau meratap, tapi tangisan yang tertahan seperti seseorang yang menutup mulutnya dengan tangan sambil menahan suara yang ingin keluar. Tersedu-sedu. Pendek-pendek. Seperti napas yang tersangkut di tenggorokan.
Maya menutup pintunya pelan. Tidak sampai tertutup rapat hanya cukup untuk memblokir suara. Ia melangkah mundur ke tempat tidurnya, duduk di pinggir ranjang, dan memeluk bantalnya erat-erat.
Ia tidak menangis. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena air matanya sudah habis sejak lama. Maya berumur tiga belas tahun.
Usia di mana anak perempuan biasanya sibuk dengan drama pertemanan, nilai matematika, atau siapa yang naksir siapa di kelas. Maya juga memiliki semua itu teman-teman di sekolah, guru yang galak, anak laki-laki di bangku belakang yang sering meliriknya.
Namun, di dalam hatinya, ada ruangan lain. Ruangan yang lebih besar dari semua itu.
Ruangan itu berisi pertanyaan-pertanyaan.
Kenapa Ayah jarang pulang? Kenapa Ibu sering diam saat makan malam?
Kenapa Dani mulai berhenti bertanya “Ayah mana" dan mulai sibuk main game sepanjang waktu?
Kenapa rumah ini terasa semakin kecil, semakin sempit, semakin pengap? Dan pertanyaan terbesar yang tidak pernah ia ucapkan pada siapapun: Apakah karena aku?
Saat di sekolah, Maya tersenyum seperti biasa. Ia mengerjakan tugas. Ia menjawab pertanyaan guru. Ia bercanda dengan teman sebangkunya tentang ujian yang sulit.
Namun, di dalam kepalanya, ada adegan yang terus berulang malam-malam ketika ia mendengar ibunya menangis di dapur, atau ayahnya membanting pintu, atau suara piring di dapur yang jatuh dan pecah padahal tidak ada yang marah, hanya tangan yang gemetar karena lelah.
Maya ingin menjadi anak yang baik. Anak yang tidak merepotkan. Anak yang tidak menambah beban.
Jadi, ia diam. Diam tentang rasa sakit di perutnya setiap kali mendengar mobil ayahnya masuk garasi tidak tahu apakah akan bahagia atau tegang. Diam tentang air mata yang ia tahan di sekolah saat melihat temannya dijemput ayahnya dengan senyum lebar.
Diam tentang kamarnya yang semakin gelap karena ia mulai menutup gorden setiap saat, seolah-olah cahaya juga terlalu berat untuk ditanggung.
Hanya Sarah yang mulai curiga.
"Maya, kok kamu kurusan?" tanya Sarah suatu hari di kantin. Sarah adalah satu-satunya teman yang tidak pernah bosan bertanya. "Muka kamu pucat gitu. Sakit?"
Maya menggeleng cepat. "Enggak. Cuma ... nggak nafsu makan."
"Nafsu makan kenapa?"
"Enggak tahu. Mungkin kebanyakan teh."
Sarah memandang Maya dengan mata menyipit. Ia tidak percaya, tapi tidak memaksa. "Kalau ada apa-apa, cerita, ya. Aku tuh suka dengerin kok, meskipun kadang aku banyak omong."
Maya tersenyum tipis. Sarah memang sahabat yang baik. Namun, bagaimana Maya akan menjelaskan bahwa rumahnya seperti kuburan?
Bagaimana ia menjelaskan bahwa ayahnya semakin asing, ibunya semakin lelah, dan adik laki-lakinya Dani yang dulu ceria kini hanya diam di kamar, menatap layar ponselnya seperti itu satu-satunya jendela ke dunia luar?
Tidak. Maya tidak bisa menjelaskan itu semua. Karena jika ia mulai menjelaskan, ia akan menangis. Dan jika ia menangis, ia tidak akan bisa berhenti.
Jadi, ia hanya menggeleng lagi. "Nggak apa-apa, Sar. Serius."
Sarah menghela napas. "Ya, sudah. Tapi jangan lupa makan."
Maya mengangguk. Lalu, ia kembali ke kelas, duduk di bangku paling pojok dekat jendela, dan menatap langit di luar.