Bab 4 Kue Ulang Tahun yang Meleleh.
Hari itu Dani bangun lebih pagi dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, menyelinap melalui celah gorden kamarnya yang jarang ia buka. Biasanya, Dani adalah orang terakhir yang turun untuk sarapan kadang bahkan harus dibangunkan Ibu tiga kali. Namun, hari ini berbeda.
Hari ini Dani berusia sembilan tahun.
Ia berguling di tempat tidur, menarik selimut ke dagu, dan tersenyum kecil. Pukul enam pagi. Di luar, burung-burung berkicau seperti ikut merayakan. Dani mengingat tahun lalu, kue blackforest, lilin berbentuk angka delapan, dan ibu yang memeluknya sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Ayah juga ada pulang lebih cepat dari kantor, membawa hadiah mobil-mobilan yang langsung dirakit bersama di ruang tamu.
Tahun ini pasti lebih baik, pikir Dani. Karena sekarang ia sudah sembilan tahun. Lebih besar. Lebih pintar. Mungkin ayahnya akan memberinya hadiah sepeda baru, seperti yang ia minta dua bulan lalu.
"Dan, bangun!" suara Ibu dari bawah. "Sarapan dulu!"
Dani melompat dari tempat tidur. Ia tidak lupa mencuci muka dan menggosok gigi sesuatu yang biasanya ia lakukan dengan setengah hati sambil mengantuk. Namun hari ini, ia ingin tampak rapi. Ini hari spesial, pikirnya.
Di meja makan, Ibu sudah menyiapkan nasi uduk lengkap dengan ayam goreng, telur, dan sambal kesukaannya. Tumpeng kecil juga ada di tengah bukan tumpeng besar seperti acara syukuran, tapi cukup untuk membuat meja terasa meriah.
"Selamat ulang tahun, Nak!" Ibu mencium kening Dani. Matanya berbinar, tapi ada semacam ketegangan di sudut bibirnya sesuatu yang Dani tidak perhatikan. "Tambah satu tahun, tambah pintar, tambah sehat, tambah sayang Ibu."
Dani mengangkat bahu malu-malu. "Ibu, Ayah mana?"
Ibu tersenyum. "Ayah masih di kamar mandi. Mandi dulu, katanya."
Dani mengangguk, langsung duduk di kursinya dan mulai menyantap nasi uduk dengan lahap. Ayam gorengnya renyah, telurnya masih hangat, dan sambalnya sedikit pedas seperti yang ia suka. Dani makan dengan cepat, karena ia ingin segera membuka kado.
Maya turun beberapa menit kemudian. Rambutnya diikat kuda dengan pita biru, hadiah ulang tahun Dani tahun lalu yang tidak pernah ia pakai karena "terlalu anak-anak". Namun, hari ini Maya memakainya. Entah untuk menyenangkan hati Dani, atau untuk menutupi sesuatu di wajahnya.
"Selamat ulang tahun, Adik," kata Maya, menaruh kotak kado di depan Dani. Bungkusnya rapi, kertas biru dengan pita emas. "Maaf kado kecil, nanti kakak belikan yang lebih bagus."
Dani langsung membuka kado buku komik seri Petualangan Tintin. Matanya berbinar. "Makasih, Kak! Aku suka banget!"
Maya tersenyum. "Gara-gara kamu suka baca komik di perpustakaan, Kakak tahu kamu suka Tintin."
Dani merangkul kakaknya canggung, karena Maya tidak terlalu suka disentuh akhir-akhir ini. Namun, Maya tidak menolak. Ia malah mengelus rambut Dani sebentar sebelum duduk di kursinya.
"Ayah masih mandi," kata Ibu, seolah menjawab pertanyaan di mata Maya. "Sebentar lagi."
Maya mengangguk. Tidak banyak bicara.
Dani terus menyantap nasi uduk. Di kepalanya, ia merencanakan hari ini, setelah makan, ia dan ayah akan merakit sepeda baru, kalau ayah memberinya sepeda, atau main layang-layang di halaman belakang, atau setidaknya menonton film kartun bersama di ruang tamu. Yang penting ayah ada. Itu sudah cukup.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan.
Arga akhirnya turun. Rambutnya masih basah, kemeja batik lengan panjang dimasukkan rapi ke celana. Senyumnya lebar, tapi Dani tidak tahu bahwa senyum itu sedikit dipaksakan. Bahwa di baliknya ada pesan dari bos yang masuk jam enam pagi, mengatakan ada rapat darurat pukul sembilan.
"Selamat ulang tahun, Dan!" Arga mengangkat Dani tinggi-tinggi, memutarnya sekali. Dani memekik senang, kakinya menendang-nendang udara seperti dulu. "Sembilan tahun! Cowok besar sekarang!"
"Yah, hadiahnya mana?" tanya Dani langsung. Tidak sabar. Matanya berbinar seperti lampu kecil.
Arga tertawa. "Nanti malam, Nak. Ayah janji."
"Kenapa nanti malam? Sekarang aja, Yah! Ibu bilang Ayah beli sepeda!"
Arga melirik Rina sekilas. Rina menunduk, mengambil piring untuk Arga.
"Sebentar lagi, Dan. Ayah harus ke kantor dulu. Rapat penting."
Dani berhenti tersenyum. "Rapat? Hari ulang tahun Dani?"
"Sebentar saja, Nak. Ayah janji cepat. Pulang siang, kita rayain bareng."
Maya, yang sedari tadi diam, tiba-tiba berbicara. "Yah, Dani sudah nunggu dari tadi pagi. Dia nggak sabar banget."
"Ayah tahu, Sayang. Tapi ini penting. Nanti Ayah ganti."
Dani menunduk. Ia tidak marah hanya kecewa. Dan kekecewaan anak kecil rasanya seperti ditampar pelan, tidak sakit secara fisik, tapi meninggalkan bekas yang lama hilangnya.
"Janji, Yah?" Dani mendongak. Matanya berusaha tegar.
"Janji. Ayah pulang sebelum maghrib. Kita nyanyi ulang tahun, potong kue, buka hadiah. Sepeda baru, Nak. Nanti kita sepedaan bareng."
Dani mencoba tersenyum. Namun, senyumnya tipis, seperti orang yang berusaha percaya meski hatinya meragukan.
"Oke, Yah. Janji, ya."
"Janji."
Arga mencium kening Dani cepat-cepat, menepuk pundak Maya, lalu melangkah ke dapur untuk mengambil kopi. Di meja, Rina menuangkan teh manis untuk suaminya. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, tapi matanya bertanya sesuatu yang hanya Arga yang mengerti: "Kamu serius pulang siang?"
Arga mengangguk tipis. Tidak meyakinkan. Namun, Rina memilih untuk percaya karena hari ini ulang tahun anaknya, dan ia tidak mau merusak hari itu dengan keraguan.
Pukul sembilan, Arga berangkat.
Dani melambai dari teras, senyumnya setengah memudar. "Janji pulang siang, Yah!"
Arga membuka jendela mobil, melambai balik. "Janji, Nak!"