“Lelucon macam apa ini!” Leo memecah keheningan. “Apa kau belum cukup berzinah di luar sana hingga kau membawa perempuan sundalmu itu kemari?!”
Napas pemuda itu memburu, mukanya merah padam. Bapak dan anak kini saling bertatapan, ketegangan kian mengental di dalam rumah itu, membuat setiap orang di dalamnya hampir kehilangan napas.
“Sayang,” Tamara bersembunyi di balik pundak kekasihnya. “Aku takut.”
Hilbram menoleh pada gadis di sampingnya dan tersenyum kecil. Tak lama kemudian, ia melangkah cepat ke arah Leo dan melayangkan bogem mentah tepat di wajahnya.
“Dasar anak kurang ajar! Berani sekali kau melawan orangtua!”
Hilbram menendang pemuda itu hingga rebah tak berdaya. Lalu dengan tatapan geram ia menatap seluruh anggota keluarga di rumahnya dan berkata, “Kalau kalian tidak suka dengan Tamara, kalian bisa pergi jauh-jauh dari rumah ini. Aku tidak butuh orang yang tak tahu berterima kasih di rumah ini.”
Ia menggenggam lengan Tamara dan berjalan menuju ruang makan. Masih dalam keadaan gemetar, Lea dan ibunya berjalan mendekati Leo yang sejak tadi lumpuh tengkurap di atas lantai.
“Sudah! Jangan hiraukan dia!” perintah suara dari ruang makan. “Biar dia bangun sendiri. Anak itu tidak akan mati semudah itu.”
Patuh pada perintah dari kepala rumah tangga, ibu-anak itu pergi meninggalkan Leo dan melangkah pelan menuju ruang makan.