20 Juni 2005
Leo membetulkan letak perban yang membalut lengannya. Semburat senja menyapa hangat saat ia keluar dari rumah sakit. Di depan gerbang, ia bertemu sesosok pria yang tak asing datang mendekatinya.
“Bob,” Leo memeluk dan menepuk pundak pria itu. “Tumben sekali. Kenapa kau ada di sini?”
“Obat darah tinggiku sudah habis,” jawabnya. “Aku mau minta resep baru dari dokter. Kau sendiri bagaimana?”
“Baik,” balasnya. “Aku baru saja mengunjungi gadis itu,” ia memperlihatkan perban di lengannya. “Kondisinya masih belum stabil.”
“Bersabarlah,” ia menepuk bahu Leo. “Ia masih perlu banyak waktu untuk pulih dari guncangan yang dialaminya.”
“Aku sampai saat ini masih belum mengerti, kenapa anak itu belum juga menampakkan batang hidungnya? Ia seharusnya datang dan bertanggung jawab atas semua ini.”
Bob tidak berkomentar apa-apa, ia menawari Leo untuk berjalan bersamanya ke taman rumah sakit dan duduk di atas kursi panjang.
“Bagaimana kabar Indra sekarang?”
“Ia baik-baik saja,” Leo menarik napas panjang. “Dia memilih untuk mengulang ujian tahun depan. Nilainya tidak cukup untuk masuk ke universitas negeri. Padahal aku sudah bilang padanya kalau masuk universitas swasta juga tidak mengapa. Tapi ia tetap saja bersikeras ingin masuk ke universitas negeri.”
“Ehm,” Bob mengangguk pelan. “Putra sulungku, Robert juga tidak mau masuk universitas tahun ini. Ingin ikut wajib militer dulu, katanya.”