1 Februari 1987
Secercah cahaya matahari yang menyusup dari balik jendela membangunkan Sa'ih dari mimpi indahnya. Ia mendesah, membungkus dirinya rapat-rapat di dalam selimutnya yang tebal, menolak untuk menerima kenyataaan bahwa waktu hibernasinya kini sudah berakhir. Sa’ih melawan gravitasi kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi, ia sudah sepenuhnya bangun saat air dingin yang mengalir dari keran wastafel menimpa wajahnya.
“Misa’icel, Sa’ih!” ia menepuk-nepuk pipinya. “Sudah waktunya Sa’ih pergi bekerja.”
Tanpa melihat penanggalan di kalender, Sa’ih sudah tahu kalau musim semi telah tiba. Burung-burung yang berkicau riang serta bunga sakura yang bermekaran di tepi jalan memberitahunya akan hal itu. Meski begitu, ia masih belum bisa keluar rumah tanpa mengenakan dua lapis baju hangat, jaket dan sebuah syal yang menggulung di lehernya. Ia tak bisa lagi berlarian dengan kaos dan celana pendek seperti waktu muda dulu.
Sa’ih memompa ban sepeda, memberi pelumas pada kemudi dan poros roda sebelum mengendarainya. Sesekali, ia memainkan bel sepedanya selama perjalanan.
“Maratar, Sa’ih!” sapa seorang petani yang sedang membajak sawahnya di atas traktor.
“Maratar, Lohok!” balasnya dengan suara yang menggema.
Sa’ih mempercepat laju sepedanya. Perutnya yang keroncongan sudah tak sabar lagi untuk diisi. Ia membelokkan kendaraannya di persimpangan jalan dan berhenti di kedai sarapan langganannya.
“Maratar, Sa’ih,” sapa wanita muda yang sedang menggoreng telur di atas wajan. “Tumben sekali kamu bangun sepagi ini.”
“Maratar, Ka’ing,” ia menarik sebuah kursi di dekat pintu kedai. “Sa’ih mulai kerja hari ini.”
“Di hari keempat tahun baru imlek?” salah satu alis Kaing terangkat. “Kamu rajin sekali.”
“Sa’ih tidak punya imlek,” ujarnya. “Sa’ih cuma ikut hari raya panen.”
“Ya, tapi kan majikanmu merayakannya. Apa mereka tidak menambah waktu liburmu?”
Kaing menaruh telur setengah matangnya di atas piring. Tanpa perlu bertanya, ia segera menyiapkan nasi kepal dan susu kedelai tawar untuk pelanggan setianya.