Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #6

Lembar Keenam

Tamara membatu, keringat dingin membulir di dahinya. Dari tatapan mata wanita berkulit cokelat muda itu, ia bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Tamara menjatuhkan pandangannya pada lantai, berusaha untuk mengalihkan perhatian dari suasana canggung ini.

“Sa’ih!” suara Hilbram terdengar di balik punggungnya. “Kenapa kau diam saja di situ?”

“Anu, Tuan,” Sa’ih memilin ujung bajunya. “Apa Sa’ih sudah tidak dipakai lagi di sini? Apa pembantu baru ini akan menggantikan Sa’ih?”

Tamara tersinggung mendengar perkataan itu, namun di saat yang bersamaan ia juga iba waktu melihat kedua mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca.

“Siapa yang mau menggantikanmu?” ujar Hilbram. “Tamara ini anak angkat Paman Long, dia datang kemari karena tak punya tempat tinggal semenjak kepergian ayah angkatnya.”

“Oh, begitu ternyata,” Sa’ih menelan ludah, “ Sa’ih pikir … Sa’ih pikir ….”

Wanita berkepala empat itu tak kuasa menahan emosi yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia menelungkupkan wajahnya dan mulai menangis.

“Sa’ih,” Hilbram mendekat dan menenangkan wanita itu, “Kau kan sudah jadi bagian dari keluarga ini. Aku berjanji tidak akan pernah memecatmu dari pekerjaan ini.”

“Terima kasih, Tuan,” Sa’ih memeluk pria itu sambil tersedu-sedu, “terima kasih.”

“Sudah, sudah. Tak usah bersedih lagi,” Hilbram menepuk-nepuk pundaknya. “Pergilah ke dapur dan bantu Nyonya memasak persembahan buat acara sembahyang siang ini, oke?”

Sa’ih mengangguk, menyeka air matanya dan berjalan cepat menuju dapur.

Tamara menarik napas lega. Namun sesaat kemudian, kekesalan kembali muncul dari dalam hati dan mengeruhkan air mukanya.

“Sayang,” Hilbram setengah memohon. “Tolong jangan pandang aku dengan tatapan seperti itu.”

Tanpa meresponi perkataan pria itu, Tamara mengambil sapu dan pengki di dekatnya dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan pria paruh baya dalam perasaan bersalah.

Lembar Keenam

Sepupu

“Nyonya, apa ada yang bisa Sa’ih bantu di sini?”

Lea dan ibunya menoleh sesaat pada Sa’ih dan kembali sibuk pada pekerjaannya masing-masing.

“Kau bisa bantu Lea mengupas udang di sana,” ujar nyonya rumah sambil mencicipi kari sapi yang baru saja matang.

Sa’ih segera menuruti perintah majikannya dan bergabung dengan Lea untuk mengupas bahan-bahan mentah di meja makan.

Selama melakukan pekerjaannya, Sa’ih memikirkan kembali keanehan yang terjadi pada keluarga majikannya tahun ini. Dimulai dari kembalinya Tuan Zhang yang terkesan bagai sebuah mukjizat, serta kehadiran gadis yang mengaku dirinya sebagai anak angkat Paman Long. Semua ini terasa seperti mimpi, ia hampir tak bisa lagi mengenali keluarga yang telah ia layani selama dua dekade ini.

Lihat selengkapnya