To
My Dear Penpal,
Kak Caca, bagaimana kabar Kakak akhir-akhir ini? Aku sendiri sehat walafiat di sini, aku cuma agak kedinginan karena lupa kalau di Australia sedang musim dingin. Untungnya Papi mengirimiku uang tambahan, jadi aku bisa membeli pakaian tebal di sini.
Dengar-dengar Kakak mulai internship kedua di RS Wanfang awal bulan Juli, ya? Sayang sekali waktunya kurang tepat, padahal aku ingin sekali bertemu empat mata dengan Kak Caca.
Apa Kak Caca sudah mendapat foto aku dan dua sahabatku di surat yang lalu? Apa memang benar Kakak pernah bertemu orang yang mirip salah seorang sahabatku sewaktu bekerja paruh waktu di Penghu? Aku mau tahu lebih banyak soal cerita itu.
Aku harap Kakak juga bisa berbagi foto sewaktu internship kepadaku. Aku enggak sabar ingin lihat wajah cantik Kakak.
Oh, ya! Aku sudah beli handphone baru di sini, nomormya akan kuberitahu di surat berikutnya. Aku tahu Kakak lebih suka bersurat untuk menambah koleksi perangko, tapi aku tetap berharap Kak Caca bisa sesekali meneleponku kalau ada waktu.
From Melbourne with love,
XOXO
Veronica Guo
* * *
7 Februari 1987
Leo mengambil sepotong kue keranjang dalam adonan tepung dan menjatuhkannya ke dalam kolam minyak panas. Desis dan aroma yang meruak dari dalam wajan menarik angan pemuda itu kembali ke masa kecilnya, saat neneknya memberi sepotong kue keranjang goreng yang baru saja matang kepadanya.
“Makan yang banyak, ya. Biar cucu kesayangan A-Ma tambah umurnya lagi tahun ini.”
Air mata kembali membasahi pipi saat ia mengaduk penganan di atas wajan. Dengan dada yang bergemuruh, ia menatap pada langit biru di balik jendela. Sudah seminggu berlalu semenjak kepergiannya dari kampung halaman. Otaknya kini dipenuhi oleh wajah Ibu dan Lea, serta kekhawatiran akan keadaan mereka berdua di sana.
* * *
Kepulan asap tipis mengambang di sekitar Lea. Gelembung-gelembung air bermunculan di permukaan kolam saat ia menghembuskan napas. Gadis remaja itu menyembulkan kepala dan membuka mulutnya lebar-lebar. Aroma belerang kembali memenuhi rongga hidungnya, melepaskan badannya dari penat setelah seharian memerah susu sapi di perkebunan Paman Yuan.
Lea membasuh lagi wajahnya dengan air berwarna putih susu. Ia menengadahkan pandangannya pada langit malam, pada bintang-bintang yang berkilauan di atas angkasa.
Banyak sekali hal yang terjadi selama seminggu terakhir ini. Kedatangan gadis simpanan Papa dan kepergian Kakak benar-benar mengejutkan. Namun semua guncangan itu perlahan mereda di dalam jiwanya. Nampaknya, gadis bernama Tamara itu tidaklah seburuk yang dikira. Ia mulai bisa menerima ‘istri baru’ Papa sebagai bagian dari keluarganya.
Lea menghela napas, pikirannya kini memutar kembali adegan opera sabun yang ia tonton lusa kemarin.
“Cepat katakan padaku! Siapa wanita jalang itu?”