13 Juli 2005
Sinar mentari merembes lewat jendela kecil dalam kamar isolasi, menghantarkan sedikit terang ke dalam ruangan yang telah lama terjangkit oleh kegelapan.
Di pojok ruangan kecil itu, duduk seorang gadis berambut acakadut. Gadis itu menunduk di sudut dinding, menghindari cahaya yang jatuh ke dalam kamarnya, berlindung pada sudut gelap yang membuatnya nyaman.
Sang gadis tak henti menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia gelisah, semua kegamangan yang menggelayut di dalam pikirannya ini membuatnya resah.
Gadis itu menoleh cepat ke arah pintu. Derik papan besi yang perlahan terbuka mengejutkan dirinya.
“Selamat siang, Nona Zhang,” sapa gadis berseragam merah jambu sambil tersenyum ramah. “Sudah waktunya minum obat.”
Gadis itu menelungkupkan wajah, menggelengkan kepalanya sedemikian rupa. Ia tak mau menelan pil-pil itu lagi hari ini. Ia tidak seharusnya berada di sini, ia harus keluar dari ruangan ini. Sekarang juga!
Gerak gadis itu terhenti saat ia mengangkat muka. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dengan perempuan berseragam itu. Perempuan itu kembali tersenyum lebar, gelak tawanya yang girang berhamburan tak lama kemudian.
“Rahel,” perempuan itu menggenggam bahunya mantap. “Kau masih ingat denganku, kan? Joan?”
Gadis itu menatap kebingungan. Siapa Rahel? Siapa Joan? Ia sama sekali tidak kenal dengan nama-nama fana itu. Ia cuma siluman rubah putih yang terkurung di dalam penjara nenek sihir, dan pil-pil yang dibawa tiap hari oleh anak buah si penyihir itu adalah ramuan yang digunakan untuk melemahkan kesaktiannya.
Sang rubah sempat mengelak saat Joan mencoba untuk membelai rambutnya. Ia mulai membiarkan tangan itu bergerak kala menangkap sepasang mata perempuan itu berubah menjadi pecahan kaca yang berkilau.
“Kasihan sekali kamu,” Joan mengusap air matanya, “aku sudah mendengar cerita dari kepala perawat. Tapi, aku tak pernah menyangka keadaanmu bisa sampai separah ini.”
Kedua mata gadis itu berbinar saat melihat butiran air yang jatuh dari kedua mata perempuan itu. Ia pastilah peri tulip yang disebut-sebut oleh legenda tua, sosok yang akan mengeluarkan dirinya dari penjara ini.
“B-bu Peri,” Rubah putih itu menggenggam peri tulip erat-erat, “bebaskanlah aku dari sini!” Ia menatap penuh harap. “Aku harus keluar sekarang juga, aku harus melawan nenek sihir yang berkuasa di daerah ini.”
Kekecewaan merundung di dada saat peri itu menggelengkan kepalanya. Ia kembali menunduk, memilin-milin ujung rambutnya yang kusut.
“Rahel, aku tahu kau masih ada di dalam sana,” ia menyodorkan pil-pil itu kepadanya. “Minumlah ini dan cepatlah sembuh, tentara langit sedang menunggumu di luar sana.”
Tentara langit, sebuah nama yang memicu kebencian yang lama terpendam di dalam hatinya. Nama yang pernah dicintainya, yang mengkhianatinya dan kabur ke negeri kayangan dengan bidadari lain.
Gadis itu mengarahkan pandangan geram pada perempuan berseragam merah jambu itu. Ternyata perempuan ini bukanlah peri seperti yang dikira, ia tak lebih dari cecunguk yang diutus si nenek sihir untuk mengelabuinya. Siluman rubah putih mendengus kencang, ia menguatkan otot-otot lengannya, bersiap menyerang peri gadungan itu dengan cakarnya yang terasah tajam.
* * *