Butir-butir hujan yang jatuh menuruni tanah Ruisui memaksa Tamara menutup jendela kamar. Sekelebat memori membanjiri pikirannya saat ia menatap pada pantulan wajahnya sendiri di depan kaca jendela. Momen ini persis sekali seperti kejadian waktu itu. Seolah sejarah kembali menyedotnya pada kenangan pahit di masa lalu.
Menantu cilik, tradisi yang sudah ada sejak dinasti Han. Adat istiadat dari keluarga yang tak mampu menjual anak perempuannya untuk dijadikan bakal istri bagi anak laki-laki dari keluarga yang berada. Tradisi yang telah mendarah daging dalam peradaban Tiongkok, yang menjadikan wanita tak lebih dari sekedar barang komoditi.
“Lalu bagaimana nasibku dengan Lea?” Suara Nyonya Zhang bergetar. “Apa kau akan mencampakkan kami sesudah kau berhasil melaksanakan rencanamu?”
Mencampakkan. Kata itu terngiang-ngiang di dalam tempurung kepalanya, membangkitkan kembali kenangan buruknya sewaktu remaja.
“Apa kau benar-benar berniat untuk mencampakkan aku dan putrimu sendiri?”
Kala itu, ia mengintip pertengkaran kedua orangtuanya dari balik pintu kamar. Dari sana, ia menyaksikan pria busuk itu melayangkan tamparan pada Mama. Ia keluar dari kamar, mencoba untuk melerai mereka berdua. Tapi tentu saja usahanya sia-sia belaka dan ia juga ikut terkena getah dari perkelahian orangtuanya.
Tamara menatap dalam refleksi wanita paruh baya itu dari kaca jendela. Garis-garis wajahnya mirip sekali dengan Mama, dan ia benci akan hal itu.
“Tidak,” ia memberikan jawabannya dengan gelengan kepala. “Aku bukan orang yang sejahat itu, Ci. Kau bisa mengambil sebagian aset dari keluarga ini sebagai modal untukmu dan Lea mencari tempat baru. Yang aku inginkan saat ini hanyalah hidup berbahagia bersama Hilbram,” ia mengelus-elus perutnya. “Bersama dengan buah hati kami.”
“Kamu … hamil?”
Tamara membalikkan badannya, kedua mata gadis itu membola.
“Kau baru tahu sekarang?” Tanyanya heran. “Aku kira kau pasti sudah tahu kalau aku sedang mengandung semenjak kita pertama kali bertemu. Ternyata aku salah.”
“Aku ini dukun beranak, bukan cenayang,” kilahnya. “Lagipula sulit bagiku untuk membaca tanda-tanda kehamilan dari tubuhmu yang kurus dan tinggi ini.”
“Ya, itu semua tidak ada artinya lagi,” ia kembali duduk di samping wanita itu. “Yang penting kau sudah tahu apa alasan di balik niatku untuk merebut takhtamu di rumah ini.”
Nyonya Zhang kembali membisu, Tamara gelisah. Kenapa dia masih bisa setenang ini? Kenapa tidak ada perlawanan sama sekali? Apa ia benar-benar tidak takut kehilangan suaminya? Seperti ia dan Mama yang kehilangan sandaran hidup mereka, kehilangan segalanya.