Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #10

Lembar Kesepuluh

“Kenapa kau bisa melakukan hal sebodoh ini? Apa sih yang sebenarnya ada di pikiranmu?”

Joan mengernyit saat seniornya menyapukan kapas yang dibasahi cairan alkohol pada luka cakar di pipinya.

“Untung enggak terlalu dalam lukanya,” suster itu menempelkan perban di pipi juniornya. “Kamu benar-benar enggak sayang ya sama wajah cantikmu ini?”

“Terima kasih, Kak,” Joan menundukkan kepala. “Maaf sudah merepotkan.”

“Tidak perlu minta maaf,”Si Senior menghela napas. “Aku cuma mau minta penjelasan atas tindakan konyolmu pada pasien di kamar 404.”

Joan membisu, tatapannya masih tertanam pada tegel. Dengan terbata-bata, ia menuturkan hubungannya dengan Rahel pada seniornya.

“Kamu sadar bukan kalau kejadian tadi bisa mengancam nilai praktekmu.” Si Senior menghela napas berat. “Bisa-bisa kredit di mata pelajaran ini hangus kalau sampai ketahuan sama kepala perawat.”

Joan mengangguk lemah, “Maaf, Kak,” ucapnya lirih. “Aku cuma mencoba untuk menyadarkan dia kembali.”

“Joan,” wanita muda itu menggenggam erat bahu juniornya. “Kita ini suster. Tugas kita merawat, bukanlah menyembuhkan. Lagipula temanmu sekarang ada dalam kondisi mental yang sangat labil. Kau sendiri sudah lihat sendiri bukan rekam medisnya?”

“Ya, aku tahu,” tuturnya. “Gangguan bipolar dengan gejala psikosis berat.”

“Tidak cuma itu saja,” suster itu memperlihatkan parut pada sisi lehernya. “Ia pasien yang berbahaya. Aku juga pernah kena cakarannya, dan beberapa waktu yang lalu sepupunya juga ikut menjadi korban dari amukannya.”

Joan terdiam. Ia masih belum mengerti mengapa temannya bisa berakhir di tempat seperti ini. Sesaat, ia mengangkat muka dan menatap seniornya. Sambil mengumpulkan sisa keberanian yang ada ia membuka mulutnya dan bertanya, “Kak, kalau aku boleh tahu, sudah berapa lama ia berada di rumah sakit ini?”

“Hampir dua tahun, kira-kira,” suster itu mengurut dagunya. “Kondisinya tak kunjung pulih sejak pertama kali masuk ke tempat ini. Kadang-kadang ia percaya kalau dirinya adalah siluman rubah yang terkurung di penjara nenek sihir. Di saat lain ia justru bertingkah seperti batita. Biasanya aku baru berani memberinya obat pada waktu itu.”

“Apa Kakak tahu penyebab dari gangguan jiwanya?”

“Jangan tanya aku,” tuturnya. “Bukannya kamu berteman dengannya? Kau harusnya lebih tahu hal itu daripada aku.”

Lihat selengkapnya