Kohkoh, 1 Juli 1987
Sayangku Nama,
Aku menulis surat ini bukan karena aku tidak mencintaimu. Justru aku sangat sayang kepadamu hingga aku tak kuasa menahan sakit sewaktu menulis ini, namun aku harap kau bisa mengerti bahwa hubungan kita tidak akan bisa sempurna kalau kau terus seperti ini. Aku harap kau bisa mengerti dan menghargai keputusanku. Aku baru saja berdoa dan aku merasa Tuhan ingin hubungan pertunangan kita dibatalkan, setidaknya sampai engkau benar-benar bisa bertobat.
Salam hangat,
Sa'ih
* * *
"Kenapa Ci masih nggak mau menandatangani surat ini?"
Ujung jari Tamara mengetuk-ngetuk meja dengan tempo cepat. Ini sudah kali ketiga Tamara menyudutkan Nyonya Zhang untuk menandatangani surat itu, namun ia sama sekali tak berkutik. Tamara mendengus kesal, ia sudah kehabisan ide untuk meladeni wanita tua ini.
"Aku sudah bilang kepadamu, Tamara. Aku terikat oleh roh di rumah ini. Aku tidak bisa meninggalkan area ini tanpa persetujuan leluhur."
"Omong kosong! Kau bilang maut akan menimpa keluarga ini kalau aku tidak pergi, bukan?" Tamara setengah tersenyum. "Kita lihat saja kepada siapa maut itu berpihak."
Gadis muda itu mengangkat gagang telepon dan menekan nomor Hilbram di telepon rumah. Nyonya Zhang bergeming, ia sepertinya tahu apa yang akan Tamara lakukan.
"Aku akan bilang ke Hilbram kalau kau mencekik dan mencoba membunuh aku dan bayiku," ucap Tamara, seolah ia bisa menangkap isi hati Nyonya Zhang lewat ekspresinya.
"Tunggu dulu, Tamara! Tunggu dulu," Nyonya Zhang menghela napas berat. "Baiklah, aku akan tanda tangani dokumen itu. Tapi dengan satu syarat: Biarkan Lea untuk tetap tinggal di sini. Aku akan pergi dari hadapanmu malam ini dan membiarkanmu menjalani hidup baru bersama Hilbram. Tapi tolong jangan sentuh anakku, mengerti?"