Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #13

Lembar Ketiga Belas

25 Juni 2005

Entah sudah berapa lama Indra tidak pulang ke rumah nenek. Nampaknya terakhir kali ia kemari, Bibi Rahel masih dalam keadaan yang tidak stabil. Ia masih teringat wujud bibi yang tadinya tenang berubah menjadi layaknya macan yang  siap menerkam mangsanya sewaktu mereka bertatapan muka. Indra meraba-raba lengannya yang mulus, menenangkan sisa memori luka yang pernah terpatri di sana.

Kalau saja laki-laki itu tidak berulah. Mungkin semuanya tidak akan jadi seperti ini.

"Indra!"

Kereta kini telah menuju ke stasiun Ruisui. Sesosok pria paruh baya melambaikan tangan padanya. Indra melangkah cepat menuju ke arah pria itu dan memeluknya erat. Aroma rerumputan dan parfum tua dari pria itu membuatnya tenang.

"Paman Bob," ucap Indra. "Lama sekali tak bertemu."

"Indra!" Paman Bob mengacak rambutnya dan tertawa. "Kamu sudah besar rupanya. Ayo kita masuk ke dalam mobil."

Uap panas menyambut Indra saat ia masuk ke dalam mobil tua itu. Paman Bob segera menaikkan tenaga AC agar suasana di dalam mobil menjadi lebih adem. Pandangan Indra terarah pada indahnya hamparan pegunungan dan sungai Xiuguluan yang meliuk-liuk di tengahnya. Disertai dengan air terjun yang jatuh dari atas tebing. Benar-benar jauh sekali bedanya dari pemandangan gedung pencakar langit di Taipei.

Ah, kalau saja aku bisa mengajak Robert dan Veronica kemari. Pasti asyik sekali.

Mobil Bob masuk ke dalam pedesaan yang menanjak gunung. Indra menutup kedua matanya dan menahan mual waktu mobilnya berkelok-kelok memutari pegunungan. Ia menarik napas panjang dan membiarkan dirinya tertidur di samping Bob.

"Oke, Indra. Kita sudah sampai."

Indra dikejutkan oleh pemandangan rumah beserta kebun yang asri. Nampaknya rumah ini mengalami renovasi yang besar selama dua tahun terakhir. Meskipun begitu, kerangka rumah ini masih terlihat sama seperti yang ada di benaknya sewaktu kecil dulu.

"Nenek?"

Bau pesing dari popok dewasa mengantarkan Indra kepada kamar neneknya. Di sana ia bergeming, menatap neneknya yang memandang langit-langit dengan tatapan kosong.

"Nenek."

Lihat selengkapnya