5 Juli 1987
Tamara menyiapkan makanan di atas meja sambil bernyanyi riang. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidup sebagai istri utama akan sangat menyenangkan. Setelah berhasil mendepak wanita aneh itu dari keluarga ini, ia merasa surga terbuka baginya. Akhirnya ia bisa menjadi wanita sejati bagi pria yang ia cintai, Hilbram Zhang. Ia sudah bisa membayangkan suaminya akan masuk dengan penuh kasih sayang dan memeluknya serta menciumnya di atas ruang makan. Ah, benar-benar bagaikan mimpi indah yang terwujud nyata. Sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.
Hilbram merasakan beban puluhan ton mencengkeram dirinya. Perjalanan dari Keelung kemari bukanlah perjalanan yang mudah. Ia ingin sekali pulang dan tidur, ia berharap tidak ada lagi drama di antara dua istrinya, semoga mereka bisa berdamai dan membiarkannya tenang.
“Darling!”
Sapaan ceria dari Tamara membuat bulu kuduk Hilbram berdiri. Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dari senyuman istri mudanya. Dari balik pintu, ia bisa melihat berbagai hidangan sudah tersaji di atas meja.
“Ayo masuk, Sayang,” ucap Tamara lembut. “Makanannya sudah siap.”
"Yang lainnya ke mana?"
"Lea sedang tidur dan Ci sudah pergi dari sini."
Sebuah petir imajiner jatuh dari atas langit dan menimpa kesadaran Hilbram. Ia termenung sejenak, bergeming dengan tatapan nanar.
"Apa katamu?"
"Aku sudah menyuruh Ci untuk membuih cap di surat ini," ucap Tamara dengan jemawa. "Ia sudah tidak ada lagi di sini. Ia sudah kuusir…."
Sebuah tamparan keras menimpa wajah ibu hamil itu. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan wajah suaminya yang merah padam.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Bodoh! Kenapa kau mengusirnya pergi? Bukankah sudah kubilang kalian harus akur?"
Hilbram meninju pintu dan segera bergegas keluar dari rumah. Nyonya Zhang tidak mungkin bisa pergi jauh dari sini. Ia yakin istri tuanya itu masih berada di area desa. Ia tidak akan kuat pergi dari area ini. Ia tahu pasti akan hal itu.
Tamara yang dibiarkan pergi oleh suaminya tercenung di dalam mangu. Otaknya tidak sempat memproses apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. Air matanya perlahan mengalir, meratapi usaha yang telah ia lakukan selama ini ternyata berakhir sia-sia. Ia pikir ia bisa merebut hati Hilbram sama seperti selingkuhan ayahnya merebut hati sang ayah dari dalam dirinya. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa bernasib seperti ibunya yang harus mengaku bahwa ia tak punya kuasa apapun terhadap lelaki yang dicintainya.
* * *
Malam itu, di tengah gemuruh hujan yang lebat Hilbram mengetuk satu per satu rumah warga dan menanyakan keberadaan istri pertamanya kepada setiap orang di desa.