1 Agustus 2005
Dari balik kaca tebal ruang observasi bangsal kejiwaan, mata Joan tak lepas dari sosok pasien wanita di kamar 404. Di dalam sana, Rahel duduk meringkuk di sudut ruangan, menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang dengan ritme konstan. Tatapannya kosong, seolah jiwanya berada di dimensi yang sama sekali berbeda.
"Kau rajin sekali menyusun laporan magangmu."
Nina menepuk pundak Joan yang sedang asyik menulis buku catatannya. Di sana tertulis semua data pribadi Rahel. Mulai dari tanggal lahir sampai detil percakapan antara mereka berdua.
"Waduh, sudah jam segini aja," ucap Joan kala melihat waktu dari jam dinding. "Ayo kita makan."
Joan dan Nina keluar dari bangsal rumah sakit jiwa dan menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Di kedai nasi ayam dekat rumah sakit keduanya mulai berbincang-bincang.
"Dengar-dengar kau kenal dengan pasien itu?"
"Ah, aku cuma kenal dengan pacarnya, kok? Kebetulan aku pernah lihat fotonya sewaktu sekolah di Penghu."
"Hmm," ucap Nina sambil menyantap nasi ayam dan menyeruput kuah baksonya. "Aku rasa kamu harus mengikuti perkataan suster. Jangan bawa-bawa masalah personal dalam sesi magang kita kali ini."
"Ya, aku tahu itu," ucap Joan sambil menyeka mulutnya. "Aku sadar kalau dia saat ini bukan dalam kondisi yang baik untuk menerima kenyataan."
"Jangankan kenyataan, pasienmu itu bahkan tidak punya kapasitas untuk memahami realita."
"Ya, sudah," Joan bangkit dari kursinya. "Aku ke bangsal dulu. Ada sesuatu yang harus kuambil di kantor perawat."
Joan membayar biaya makannya dan bergegas pergi ke kedai. Sesaat setelah ia sampai di bangsal ia mendapati Rahel sedang disuapi oleh seorang gadis berambut panjang.
"Ah, jadi ini peri tulip yang kamu maksud?"