Nyonya Zhang berlutut di altar para leluhur dan mengangkat dupa tinggi-tinggi di depan sesaji yang telah ia siapkan sedari pagi. Ia memohon dan membungkuk sebanyak tiga kali di depan altar. Ditaruhnya dupa di atas altar dan ia mulai berdoa, berharap damai dan tenteram bisa datang ke dalam rumah ini. Namun ketika ia bertanya pada leluhur apakah mereka puas dengan sesaji yang mereka terima lewat dua balok merah yang ia lempar ke udara, ia mendapat penolakan.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan keluarga ini?"
Nyonya Zhang melempar balok itu dan mendapat pernyataan iya sebanyak tiga kali. Keringat membasahi dahinya saat ia menatap asap yang membubung dari ataas dupa bergerak liar. Ia nampaknya tahu siapa yang sedang ia sembah kali ini.
"Apakah Mama ada di situ?"
Nyonya Zhang melempar balok itu dan satu sisi menghadap ke atas dan satu sisi lagi menghadap ke bawah, menandakan kehadiran Nyonya Wu di hadapannya.
"Apa Mama marah kepadaku?"
Kali ini ia mendapati dua balok datar menghadap ke atas, menandakan Mama sedang tertawa akan keluguannya.
"Apa ini semua karena Tamara?"
Ya.
"Apa Mama ingin aku menghabisi nyawanya?"
Nyonya Zhang kembali melempar dua balok sabit itu ke udara, berharap Mama bisa mengampuni dan menerima Tamara dalam keluarga ini. Namun, trak! Kedua balok itu menghantam tegel dingin dengan suara yang terlampau nyaring di tengah keheningan malam. Satu sisi cembung, satu sisi datar. Ya. Mama menginginkannya mati. Nyonya Wu tak ingin ada noda bersarang di keluarga ini. Kalau tidak, berkat dan restu leluhur tidak akan menyertai keluarga ini lagi. Ini berarti kutukan bagi Nyonya Zhang. Bisa saja ia dibuat gila lagi seperti dulu atau yang lebih parah, kesadarannya diambil alih oleh Mama.
"Aku punya satu permintaan, Mama," Nyonya Zhang menempelkan dahinya di atas lantai, air matanya mulai mengalir deras. "Kalau boleh, mohon, aku mohon beri ampunan pada bayi di perutnya. Ambil apa yang kau inginkan. Asal jangan kau rebut bayi itu."
Nyonya Zhang melempar balok itu dan mendapatkan persetujuan. Sesaat ia bisa mendengar bisikan Mama di dalam kepalanya.
Anak baik, aku tahu kau pasti akan kembali bertekuk lutut di hadapanku.
Nyonya Zhang terdiam dalam sujud. Postur tubuhnya yang lemas kini menjadi tegak. Ia mengangkat muka. Sinar di kedua matanya kini meredup. Wajahnya yang sempat menggambarkan kesedihan kini berubah menjadi seraut senyum janggal. Mama berdiri dari altar leluhur dan meniup dupa hingga mati dan memakan ayam di meja sesaji dengan lahap. Kali ini ia akan membantu membereskan kotoran yang bersemayam di keluarganya.
* * *
Tamara terbangun oleh aroma ayam goreng dan babi kecap kesukaannya. Ia melangkah dari kamarnya dan terkejut melihat Nyonya Zhang dan Lea menyambutnya dengan hangat.